Pecinta Sunnah, Ahlussunah Wal Jama'ah


    ‘Kesesatan Aqidah wahaby (Rububiyah-Uluhiyah-asmawashifat)

    Share
    avatar
    Abidin

    Jumlah posting : 12
    Join date : 11.06.11

    ‘Kesesatan Aqidah wahaby (Rububiyah-Uluhiyah-asmawashifat)

    Post by Abidin on Mon 14 Nov 2011, 14:09

    ULUHIYYAH DAN RUBUBIYYAH [/font">Suatu Kerapuhan Aqidah Uluhiyyah dan Rububiyyah Ciptaan Ibnu Taimiyah Pembahagian tauhid kepada dua iaitu tauhid uluhiyyah dan tauhid rububiyyah telah dicipta dan dipelopori oleh Ibnu Taimiyyah Al Harrani (wafat 728H). Pembahagian
    seperti ini boleh mengelirukan terutamanya orang awam yang kurang
    mendalami ilmu. Kegelincirin Dari Landasan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
    Tidak
    pernah disebut di dalam sunnah nabawiyah bahawa tauhid itu terbahagi
    kepada uluhiyyah dan rububiyyah. Dan bahawa mereka yang tidak mengerti
    tauhid uluhiyyah adalah yang mengetahui tauhid rububiyyah sebagaimana
    yang diketahui oleh golongan musyrikin. Perkara ini tidak pernah disebut
    langsung oleh mana-mana sahabat, tabi`in mahupun atba` tabi`in
    termasuklah Imam Ahmad bin Hanbal sebagai mana yang didakwa oleh Ibnu
    Taimiyah. Malah tidak terdapat juga di dalam karya-karya murid-muridnya
    yang terkenal, Ibnu Al Jauzi dan Al Hafiz Ibnu Kathir.

    Mari kita lihat kesesatan faham rububiyah-uluhiyah wahabi :
    1. Orang kafir dianggap beriman dengan tauhid rububiyah

    Hujjah Ahlusunnah atas kesesatan tersebut diatas :
    AJARAN
    SESAT WAHABI PERTAMA. Puak Wahabi melarang orang belajar tentang sifat
    20 pada hal ini dianjurkakn oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Ini jelas dapat
    dilihat di negara Arab Saudi. Mereka menciptakan suatu pengajian tauhid
    secara baru yang tidak ada sejak dahulu, baik pada zaman nabi SAW atau
    pada zaman Sahabat baginda.Pengajian baru itu mereka namakan dengan
    “Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah”. Tauhid ini ada 2 jenis, kata
    mereka iaitu:
    1.
    Tauhid Rububiyah iaitu tauhidnya orang kafir dan tauhidnya orang
    musyrik yang menyembah berhala, atau dengan kata lainnya “Tauhid” orang
    yang syirik.2. Tauhid Uluhiyah iaitu tauhidnya orang Mukmin, tauhidnya
    orang Islam serupa iman dan Islamnya puak Wahabi. Mereka mengatakan
    bahawa dalam Al Quran disebut begini: ” Katakanlah (Wahai Muhammad):
    Kepunyaan siapakan langit dan bumi dan semua isinya kalau kamu
    mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah kepada
    mereka: Mengapa kamu tidak mengambil perhatian?” ( Al Mukminun:84-85)
    Dengan
    ayat ini kaum Wahabi mengatakan bahawa orang kafir pun percaya kepada
    adanya Tuhan tetapi imannya tidak sah kerana menyembah berhala disamping
    pengakuannya kepada adanya Tuhan iaitu Allah. Dalil lain yang mereka
    ajukan adalah: “Dan kalau engkau bertanya kepada mereka siapakah yang
    menciptakan langit dan bumi dan menjadikan matahari dan bulan, mereka
    akan menjawab: Allah. Maka: Bagaimana kamu berpaling daripada
    kebenaran?” (Al Ankabut:61)
    Jadi
    kesimpulannya, orang Wahabi, orang kafir mengakui adanya Allah tetapi
    mereka menyembah selain Allah. Jadi, kata mereka, ada orang yang
    mengakui adanya Tuhan tetapi menyembah selain Tuhan adalah bertauhid
    Rububiyah iaitu Tauhidnya orang yang mempersekutukan Allah. Adapun
    Tauhid Uluhiyah ialah tauhid yang sebenar-benarnya iaitu mengesakan
    Tuhan sehingga tidak ada yang disembah selain Allah. Demikian pengajian
    Wahabi.Pengajian seperti ini tidak pernah ada sejak dahulu. hairan kita
    melihat falsafahnya. Orang kafir yang mempersekutukan Tuhan digelar kaum
    Tauhid. Adakah Sahabat-sahabat Nabi menamakan orang musyrik
    sebagai ummat Tauhid? Tidak! Syirik dan Tauhid tidak mungkin bersatu.
    Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam.
    Mungkinkah bersatu siang dengan malam serentak?Begitulah juga tidak
    adanya syirik dan tauhid bersatu dalam diri seseorang. Sama ada dia
    Tauhid atau Musyrik. Tidak ada kedua-duanya sekali. Jelas ini adalah
    ajaran sesat dan bidaah yang dipelopori oleh puak Wahabi & kini
    telah merebak ke dalam pengajian Islam teruatamnya di Timur Tengah. Kaum
    Wahabi yang sesat ini menciptakan pengajian baru dengan maksud untuk
    menggolongkan manusia yang datang menziarahi makam Nabi di Madinah,
    bertawasul dan amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang lain sebagai orang
    “kafir” yang bertauhid Rububiyah dan yang mengikuti mereka sahaja adalah
    tergolong dalam Tauhid Uluhiyah. (email dari Sayyid Imran Assegraaf).

    **************************************************************************************************************
    wahai
    wahabi itu adalah “perkataan orang-orang kafir” yang mana perkataan
    mereka tidak sama seperti keyakinan didalam hati mereka dan perbuatan
    mereka.Dan mereka sama sekali tidak termasuk kategori “ iman“ dari segi
    manapun.
    Lihat definisi iman menurut ahlusunnah :
    “iman
    adalah menyakini Allah dalam hati yang diucapkan dengan lisan dan
    diamalkan dengan perbuatan (kitab sulam taufiq)”. Maka penafsiran
    ahlusunnah dalam ayat ini :

    Kalau
    kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka
    akan menjawab Allah.” “Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah
    yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan
    bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61) “Dan kalau
    kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit
    lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.”
    (QS. Al Ankabut: 63)

    Mereka (orang-orang kafir dalam ayat diatas) tidak digolongkan dalam “beriman”karena ini adalah hanya sekedar “ucapan” tapi
    tidak ada keyakinan dalam hati dan tidak diamalkan dalam perbuatan.
    Ahlusunnah menyimpulkan “orang yang menyakini tauhid dan bisa menjawab
    pertanyaan munkar-nakir dalam kubur saja yang digolongkan telah “beriman”.

    Ketahuilah wahai wahabi! Jika manusia mati dan dimasukan kedalam kubur maka akan ditanya oleh malaikat tiga perkara :
    - Man rabbuka ? (Siapa Tuhan (Rabb) kamu?
    Maka mukminin (orang2 yang beriman) akan menjawab : Allahu Rabbii (Allah adalah rabb (tuhan) kami!
    Kenapa Allah tidak bertanya siapa ilah kamu ? (uluhiyah versi wahabi)
    karena
    tauhid itu adalah iman yang tidak bisa dibedakan /atau dipisah2kan
    (rububiyah dan Uluhiyah)!, Seseorang yang beriman pada rubbubiyah pasti
    juga beriman pada uluhiyah!.

    Sedangkan aqidah sesat wahabi ini mengatakan : orang ini (orang kafir) beriman pada rububiyah tapi tidak beriman pada uluhiyah!
    sungguh kesesatan tauhid yang nyata!
    2.
    Dalam menjelaskan makna Tauhid, Wahabi menafsirkan kalimat “laa ilaha
    illallah ” tanpa menyertakan penafsiran kalimat “Muhammadarrasulullah”

    Sehingga
    akan mengkafirkan orang2 yang mukmin (yaqinnya hanya pada Allah) tapi
    ia “bertawasul dengan nabi”, “bertabaruk dengan benda-benda peninggalan
    nabi” dsb. (padahal tawasul dan tabaruk adalah sunah Para Nabi).

    Hujjah ahlusunnah Dalam Perkara ini :
    Dalam
    penafsiran makna aqidah islam tidak boleh memisahkan antara kalimat
    iman “laa ilaha illallah ” Dengan Kalimat Amal ““Muhammadarrasulullah”.
    Maka
    kenapa ahlusunnah dan nabi adam, nabi yusuf, shahabat nabi dan
    shalafushalih bertawsul dan tabaruk ?Maka jawaban lisan kami dan
    keyakinan hati kami menjawab :
    “Kami
    yakin bahwa Makhluq (selain Allah) tidak boleh yang memberi manfaat dan
    mudharat, tapi hanya Allah yang memberi manfaat dan mudharat.

    Kami bertwasul dan ber-tabaruk karena Perintah Allah dan sunnah Nabi Muhammad saw”
    Untuk masalah ini kami jelaskan makna kalimat tauhid “Laa ilaha illallah - Muhammadarrasulullah” :
    a) Maksud Kalimat iman “laa ilaha illallah “
    Ketahuilah! Bahwa kalimat “laa ilaha illallah ” adalah kalimat”iman (dalam kenyakinan/i’tiqad dalam hati”
    Makna
    ” Menyakini bahwa makhluq (selain Allah) tidak punya kuasa apapun!,
    Hanya Allah yang punya kuasa (Hanya Allah yg dapat memberi manfaat dan
    mudharat, Allah yang menciptakan, memelihara, memberi rizqi,
    menghilangkan sakit, menurunkan hujan dsb.)”

    Seperti : Makan tidak boleh memberi kenyang, tapi Allah yang memberi kenyang!
    Minum tidak boleh menghilangkan haus, tapi Allah yang menghilangkan Haus!
    inilah
    maksud kalimat ini, sedangkan kenapa kita makan, minum dsb? Akan
    dijelaskan dengan kalimat tauhid yang kedua “Muhammadarrasulullah”
    b). Maksud kalimat amal “Muhammadarrasulullah”
    Maka
    Kalimat iman “laa ilaha illallah ” dalam iqrar al’ubudiyah (janji
    penghambaan kita pada Allah /syahadat ) tidak boleh dipisahkan dengan
    Kalimat amal yaitu “Muhammadarrasulullah”.
    Maksudnya : Segala perbuatan yang akan membawa kejayaan didunia dan ahirat adalah hanya dengan mengikut sunah nabi Muhammad saw.
    Jadi, kita akan jawab : “Saya yakin bahwa makanan tidak boleh yang memberi kenyang, tapi Allah yang memberi kenyang. Saya Makan karena Perintah Allah dan sunnah Nabi Muhammad saw”
    - (karena Allah perintahkan untuk makan adan bekerja yang halal “kuluu minathayibati wa’malu shalihaa”(al qur’an)
    - dan juga rasulullah makan dan minum dgn penuh adab dan do’a (lihat kitab hadits bab makan ).
    Jadi mengenai tawassul dan tabaruk :
    Maka jawaban lisan kami dan keyakinan hati kami menjawab :
    “Kami yakin bahwa Makhluq (selain Allah) tidak boleh yang memberi manfaat dan mudharat, tapi hanya Allah yang memberi manfaat dan mudharat.
    Kami bertwasul dan ber-tabaruk karena Perintah Allah dan sunnah Nabi Muhammad saw”
    Dalil-tawasul dan Tabaruk :
    Nabi Adam Bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW. Sebelum Nabi Muhammad Lahir Umar ra. berkata bahwa baginda Rasulullah SAW berkata : “Tatkala
    Nabi Adam a.s. telah berbuat kesalahan (yang dengan sebab itu nabi Adam
    a.s. telah dihantar dari sorga ke dunia ini maka baginda a.s.
    senantiasa berdoa dan beristighfar sambil menangis-nangis). Sekali
    beliau mengangkat kepalanya ke langit dan memohon :
    “Ya Allah aku memohon (keampunan) kepada Engkau dengan berkat Muhammad SAW “ Maka Allah SWT mewahyukan kepadanya : “Siapakah Muhammad SAW ini, yang engkau memohon keampunan dengan berkatnya? Baginda
    a.s menjawab : Ketika Engkau jadikan aku, maka sekali daku melihat ke
    ‘arsymu dan terpandang tulisan Laa ilaha illallahu
    Muhammadurrasuulullahi (Tidak ada tuhan yang berhaq disembah melainkan
    Allah - Nabi Muhammad SAW adalah Utusan Allah). Maka aku yakin bahwa
    tiada siapa pun yang lebih tinggi darinya disisiMu yang namanya Engkau
    letakan bersama Nama Mu”.
    Lantas
    Allah mewahyukan kepada baginda a.s. : ” Wahai Adam, sesungguhnya dia
    adalah Nabi Akhir zaman dari keturunanmu. Sekiranya dia tidak ada maka
    pasti aku tidak akan menciptakanmu”
    (Dikeluarkan dari Thabrani dalam Jami’ushaghir dan juga Hakim dan Abu Nu’aim dan Baihaqi keduanya dalam dalam kitab ad-dalail). Keterangan
    : Pada masa itu apa dan dengan cara bagaimanakah baginda Adam as
    memohon keampunan kepada Allah SWT tentang hal ini didapati berbagai
    macam riwayat tetapi tidak ada perselisihan dalam riwayat tersebut. Ibnu
    Abbas ra berkata bahwa Nabi Adam as pernah menangis yang jika tangisan
    seluruh manusia dikumpulkan maka tidak akan menyamai tangisan Adam as.
    Sehingga baginda tidak mengangkat kepalanya ke langit. Didalam sebuah
    hadits diterangkan : “Andaikata titisan airmata nabi Adam as ditimbang
    dengan titisan airmata seluruh anak cucunya. Maka titisan air mata
    beliaulah yang akan memberati.” Maka dalam keadaan yang sedemikian itu
    bagaimana baginda bermunajat dan memohon pengampunan itu tidak mungkin
    diduga oleh manusia biasa. Oleh itu tentang cara-cara mengenai memohon
    keampunan yang diterangkan dalam hadits diatas tidaklah terdapat
    kesukaran apapun. Salah satunya adalah memohon keampunan dengan bekat
    baginda SAW dan tertulisnya kalimah “laa ilah illallah
    Muhammadurrasulullah” di Arsy juga disebutkan dalam hadits yang lain.
    Baginda SAW bersabda : Saat aku memasuki syurga (pada malam mi’raj) aku
    melihat kedua belah pintu surga tertulis 3 baris kalimat. Kalimat
    Pertama : Laa ilaha illallahu Muhammadurrasuulullahi (Tidak ada tuhan yang berhaq disembah melainkan Allah - Nabi Muhammad SAW adalah Utusan Allah) Kalimat
    kedua : maa qaddamnaa wajadnaa wamaa akalnaa rabihnaa wamaa khalafnaa
    khasarnaa “Apa-apa yang telah kami hantar kemuka (sedekah dsb) telah
    diterima. Apa-apa yang telah kami makan (didunia) telanh menguntungkan
    kami. Dan apa-apa yang kami tinggalkan (didunia) telah merugikan kami
    Kalimat ketiga : “ummatummadznibatun warabbun ghafuurun” “Umat adalah
    pendosa dan Tuhan pengampun” (Fadhilat Dzikir, Hadits 2 Jadi
    telah jelas bahwa Nabi Adam bertawasul dengan nabi Muhammad SAW sebelum
    nabi dilahirkan karena ketinggian derajat Nabi Muhammad SAW dan Nama
    Nabi MUhammad Tertulis di ‘Arsy.
    Jadi saat rasulullah
    belum dilahirkan, saat rasulullah hidup maupun saat rasulullah sudah
    wafat….maka dibolehkan bertawasul dengan keberkatan Nabi SAW. (karena
    ketinggian derajat Nabi Muhammad SAW dan Nama Nabi MUhammad Tertulis di
    ‘Arsy).

    3. Kesesatan tauhid Asma’washifat wahabi adalah mengambil makna dhahir af’al (perbuatan) Allah dalam ayat dan hadits Mutasyabihat. Sehingga mensifati Allah dengan sifat makhluq seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka :
    Tuhan duduk, Tuhan Di arsy, Tuhan dilangit, Tuhan punya dua tangan,
    punya jari-jari, punya dua kaki, tuhan berlari kecil, tuhan berjalan,
    tuhan naik turun dsb.
    Hujjah Ahlusunnah atas kesesatan ini :
    1. wahabi katakan : “Allah punya Tangan tetapi beda dng tangan Makhluk” mereka katakan mereka menerima secara zahir,lalu mereka katakan lagi bahwa yg zahir itu beda dng zahirnya makhluk….
    kami bertanya : lalu makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ?? I
    nilah akidah akal akalan mereka tak ada satu orangpun salaf al shalih yg berakal seperti ini…..
    2. yang punya keyakinan keyakinan kalian bahwa Tuhan bersemayam di ‘arsy.
    manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud? Coba kalian pikirkan, manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy :
    seseorang
    dalam keadaan berdiri atau sujud? Sudah tentu berdiri lebih dekat ke
    ‘arsy. Jadi apabila kalian berpendapat bahwa Allah bersemayam di ‘arsy,
    maka dimanakah hadits yang mengatakan, “Paling dekatnya kedudukan
    seorang hamba dengan Tuhannya adalah apabila dia dalam keadaan sujud”.
    3. Sebelum Allah ciptakan semua makhluq (zaman azali)….. semua
    makhluq tdk ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya,
    atas,bawah….smua makluq tdk ada,karena Allah blm ciptakan…..) pada saat
    itu dimana Allah?

    dan setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana allah?
    Ingat : Sifat allah tetap tdk berubah..sifat allah tdk sama dgn makhluq
    4 .kenapa kalian solat masih hadap kekiblat, katanya Allah diatas?
    ingat Langit Hanyalah kiblat Do’a….bukan tempat bersemayam Allah….
    ingat : Allah ada tanpa tempat dan arah
    Biar wahabi ga pening jawab…ane kasih kunci jawabannya :
    WAHABI TIDAK IMANI SIFAT QIDAM DAN ZAMAN AZALI
    Qidam = sudah sedia ada ( adanya tidak didahului oleh tidak adanya)
    Dalil : huwal awwalu wal akhiiru Huwa yaitu Allah, al awwalu, Dzat yang awal, wal akhiiru dan Dzat yang akhir
    Sifat mustahil / lawan ( muhal ) qidam = huduts ( baru )
    SEDANGKAN MAKHLUQ ADALAH BARU…..
    DEFINISI MAKHLUQ DAN ZAMAN AZALI :

      Waktu sekarang Wed 22 Nov 2017, 10:43