Pecinta Sunnah, Ahlussunah Wal Jama'ah


    Syaikh Ahmad at-Tijani ra

    Share
    avatar
    Taufiqurrahman

    Jumlah posting : 11
    Join date : 16.06.11

    Syaikh Ahmad at-Tijani ra

    Post by Taufiqurrahman on Thu 16 Jun 2011, 03:18

    Riwayat hidup Syeikh Ahmad bin Muhammad At-tijaniy ra di wakili silsilahnya adapun silsilah nasab Syeikh Ahmad At-tijaniy ra dari pihak ayah adalah Syeikh Abul Abbas Ahmad At-tijaniy ra bin Muhammad abu Amr bin Al-mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Alled bin Salim bin Ahmad Al-mukhtar bin Alwani bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Al-abbas bin Abdul Jabar bin Idris bin Idris bin Ishaq bin Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad’an Nafsu Zakiyah bin Abdullah Al-kamil bin Al-hasan Al-mutsanna bin Al-hasan As-sibth bin Ali bin Abu Tholib kw dari Sayyidah Fatimah Az-zahro ra binti Rosullah saw.

    Adapun dari pihak ibu adalah Syeikh Abul Abbas Ahmad At-tijaniy bin Sayyidinah Aisyah binti Abu Abdillah Muhamad bin As-sanusi At-tijaniy Al-madhowi.

    Kata-kata Tijaniy merupakan nisbah kepada suatu negeri terkenal bernama Tijanah. kabilah Tijanah adalah keluarga Syeikh Ahmad dari pihak ibu beliau dan pada kabilah ini lebih di kenal sebutan marga beliau sehingga lazimdi sebut (Tijanah) sedangkan kata Al-madhowi merupakan nisbah kepada Ainun Madhi suatu desa terkenal di sahara timur maroko. Bundanya adalah laksana mutiara yang tersimpan rapi dan mutiara yang tersembunyi sedangkan ayahnya seorang ahli ibadah yang wara syekh ahmad bin muhammad at-tijani ra lahir di desa (ainu madhi bagian selatan al jazair) dengan karunia Allah yang besar sejak umur 7 tahun beliau telah menghafal Al-quran dengan menghafal sempurna di bawah bimbingan gurunya syekh ridho amin syyid muhammad bin hamawy at-tijani kemudian beliau sibuk mempelajari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan agama baik ilmu-ilmu ushul,furu dan adab,hingga menguasainya di hadapan gurunya syyid mabruk bin buafiah al-madhowy at-tijani, beliau mempelajari kitab muktashor,syekh kholil,ar risalah karya imam sya’fii,muqodimmah ibnu rusyid dan al-akh dhori.setelah itu beliau berkeliling untuk mencari ilmu pengetahuan selama bebarapa tahun di negrinya sehingga menghasilkan ilmu –ilmu yang bermanfaat baginya ,bahkan beliau mampu menjawab berbagai macam pertanyaan yang di kepadanya dari berbagai macam disiplin ilmu dengan jawaban yang sangat memuaskan padahal beliau masih sangat muda belia.kesibukannya sehari-hari di isi dengan muthola’ah kitab ber mudzakarah dengan sahabat-sahabatnya bergaul dengan sesama manusia mengarang kitab dan memenuhi jiwanya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat seperti ilmu hadist,fiqih,tauhid dan sebagainya .

    Setiap orang yang bertanya kepadanya ia memberikan jawaban yang memuaskan hatinya seolah-olah jawaban itu tertulis dipelupuk matanya. Ketika ayah dan bundanya wafat berbarengan dalam satu hari pada tahun 1166 H, karena terserang wabah penyakit dan pada saat itu beliau berusia 16 tahun sepeninggalan orang tuanya tidak membuat ia patah semanggat ia tetap menyibukan diri dengan ilmu pengetahuan belajar mengajar dan memberikan fatwa hingga mencapai usia 21 tahun, kemudian beliau mengunjungi kota Fez karena ia telah mendengar sebuah hadist bahwa rasullah bersabda :’akan ada di maqribhy, maroko sebuah kota yang bernama fez, akan ada satu kaum di negri yang menjadi kiblat bagi penduduk negri itu banyak bersholawat kepada nabi dan suka menegakan kebenaran dan orang–orang yang berusaha menentang mereka tidak akan berhasil karena Allah telah memelihara mereka dari kebencian sampai hari kiamat ‘

    Orang yang pertama mencari isyarat hadist ini adalah Sayyid Jalil Naslul Afadhil Sayyid Muhammad At Thoyyibin Muhammad bin Abdullah yang masyur dengan sebutan Alwani.

    Didalam perjalanannya Syekh Ahmad bertemu dengan wali quthub Maulana Ahmad As-Shoqoly ra dan ia pun bertemu dengan Sayyid Muhammad Al-Wanjali di gunung Zabid dan sebelum Syekh Ahmad mengutarakan maksudnya ia berkata: “Engkau akan mencapai pangkat Imam Abil Hasan As-Sadzili ra”. Lalu ia pun menyikap semua tabir rahasia di batinnya dan berisyarat kepada Syekh Ahmad untuk kembali ke Ainu Madhy beliau bertemu dengan seseorang walyulloh yang sholeh Sayyid Abdullah bin Sayyid Al-Aroby bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi Syekh Ahmad menceritakan tujuannya dan akhirnya perjumpaannya ia berkata kepadanya “Allah akan membimbing tanganmu “ ia mengucapkannya 3 kali. Kemudian beliau pun bertemu dengan Sayyid Abul Abbas Ahmad At-Thowasy dan mentalkin dzikir sambil berkata kepadanya, “lazimkanlah! berkholwat dan berzikir serta bersabarlah sampai Allah membukan futuhnya bagimu”. Kemudian ia pun segera kembali ke gurun (sahara) untuk melaksanakan perintah dari Sayyid Muhammad Al-Wanjali sekaligus berziarah ke jawiyah Syekh Abdul Qodir bin Muhammad Al-Abyadh dan menetap disana beberapa saat.setelah itu pergi ke Ainu Madhy hal ini terjadi pada tahun 1181H pada saat usia beliau 31 tahun dan pada tahun (1772-1773M) ia berziarah ke kota tilisam dan langsung melaksanakan ibadah haji ke Baitul Haram sekaligus berziarah ke makam Rusulloh saw dimadinah.

    Dan tatkala ia sampai dikota Azwawy ia mendengar nama Sayyid Abi Abdullah bin Abdurahman Al-Azhari maka ia segara menemuinya dan mengambil talqin Kholwatiyah setelah mempelajarinya kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke tunisia tepatnya di kota As-Susah ia menetap setahun di sana dan berjumpa dengan Sayyid Abdus Shomad Ar-Rohawy yakni murid dari salah satu wali qhuthub di negri itu dan Syekh Ahmad minta izin kepadanya untuk menemui waly quthub tersebut ia lalu memberi isyarat bahwa waly qhutub tersebut hanya mau menerima izin 4 orang saja untuk menemuinya. Syekh Ahmad termasuk salah satu dari mereka maka Syekh Ahmad pun pergi menemuinya di temeni oleh Sayyid Abdus Shomad Ar-Rohawy beliau pun menyambut kedatangan mereka berdua dengan penuh suka cita sambil berkata “kekasih berjumpa dengan kekasih”, ini adalah kabar gembira yang di isyaratkan oleh Allah, Tuhan semesta alam“.

    Kemudian setelah pertemuan itu selesai maka Syekh Ahmad segera kembali ke Kairo Mesir untuk menemuio Syekh Ahmad Al-Qurdy maka tibalah ia dengan selamat dan afiat di sana, tatkala ia tiba di hadapannya Syekh Sayyid Mahmud Al-Kurdy berkata kepadanya; “Kamu akan dicintai oleh Allah didunia dan akhirat“ kemudian Syekh Ahmad bertanya; “Dari mana tuan tahu akan hal ini”saya mengetahui dari Allah”. jawabnya.

    Setelah menetap disana selama beberapa hari, Syekh Sayyid Mahmud Al-Kurdy bertanya kembali kepadanya; “Sebenarnya apa yang engkau cari?” Syekh ahmad menjawab “Martabat Al-Qutbaniatl Uzhma”.

    Kamu akan mencapainya lebh tinggi dari kedudukan itu tegasnya kemudian Syekh Ahmad melanjutkan perjalanan serta pergi menunaikan ibadah haji lagi beliau sampai dikota Mekah Al-Musyarofah pada bulan syawal pada tahun 1187H disana ia mendengar kabar tentang Syekh Al-Imam Abil Abbas Sayyid Muhammad bin Abdulah Al-Hindi beliau banyak memperoleh ilmu asror, hikmah dan nur darinya walaupun beliau belum pernah berjumpa langsung dengannya tapi hanya perantara kodamnya saja karena ia tidak memberi izin kepada semua orang untuk menjumpainya.walaupun demikian ia menulis sebuah surat tersebut ia berkata: “Kamu akan mewarisi ilmuku, asror, hibah dan nurku bahkan kamu akan mencapai pangkat Syekh Abil Hasan Sadzili ra”. Setelah kejadian itu Syekh Ahmad ra menyelesaikan ibadah hajinya hingga memperoleh haji yang mabrur lagi sempurna kemudian ia berkunjung ke kota Madinah Al-Munawwaroh untuk berziarah ke makam Rasullah saw ia memasukan makamnya dengan penuh penghormatan dan pengagungan dan setelah selesai berziarah kemakam Rasullah ia memberi Kawaly Qutub besar yang masyur dengan nama Syekh Saman ra dan ia memberi kabar kepada Syekh Ahmad ra bahwa ia akan menjadi Qutubul Jami dan ia berkata kepadanya: “Mintalah apa yang kamu inginkan“ maka Syekh Ahmad ra meminta beberapa hal kepadanya dan ia pun memenuhi permintaan tersebut.

    Kemudian setelah itu Syekh Ahmad ra minta izin untuk kembali ke Kairo mesir, untuk berziarah kepada gurunya Syekh Ahmad Mahmud Al-Kurdi dan sebelum ia kembali pulang ke Maroko Syekh Mahmud Al-Kurdi memberi izin kepadanya untuk mengambil amalan Thoriqoh Kholwatiyah dan Syekh Ahmad ra , yakinlah orang lain saya yang menjaminnya‘ kemudian syekh ahmad menjawab : “baiklah “ lalu syekh mahmud al-kurdi menuliskan ijzah dan memberikan sanad-sanad thoriqohnya.kemudian syekh ahmad kembali ke tilimsan dan memetap di sana beberapa hari dan sering mendatangi daerah gurun hal ini terjadi paa tahun(1781-1782 m) lalu ia pergi ke desa syalalah dan menetap di sana beberapa hari dan ia pun di sana mengunjungi seorang wali quthub yang bernama sayyid abi syam gun dan melanjutkan perjalanan kedesa atwat dan di sana ia banyak menjumpai para wali Allah dan banyak memetik beberapa ilmu khususnya dari mereka setelah itu beliau kembali lagi ke desanya wali quthub sayyid abi syamgun dan menetap beberapa tahun bahkan beliau menjadi warga negaranya dan takala tiba saatnya tampaklah awal sinar mentari wali wilayah didesa abi syamgun dan syalalah,syekh ahmad bin muhammad at-tijani ra mengalami futub ia menyaksikan rasullah saw dengan mata kepalanya dan adapun pertemuan tersebut dalam keadaan jaga (bukan mimpi) dalam pertemuan tersebut rasullah saw mengizinkan syekh ahmad ra untuk mentalqin orang lain setelah sekian lamanya memisahkan diri dari masyarakat luas guna memelihara kesucian jiwanya dan tidak mendakwakan dirinya sebagai seorang syekh thoriqoh sampai rasullah saw mengizinkannya untuk membina manusia secara umum maupun khusus. Dan rasullah saw menegeskan dalam sebuah keputusan kepadanya bahwa beliau adalah syekhnya langsung pendidikan dan yang menjaminya kemudian beliau mentalgin wirid istigfar dan shalawat kepadanya .dan pada tahun ( 1786 m ) rasullah menyempurnakan talginnya dengan wirid haylalah dan pada saat itu syekh ahmad ra berusia 50 th dan ia perintahkan untuk meninggalkan seluruh bentuk dzikir yang telah diambil nya dari para syekh thorigoh dan para pemuka tasawuf dengan alasan jika telah memperoleh limpahan dari Allah langsung mak gugur lah limpahan di peroleh dari manusia . maka pada bulan muharrom tahun 1799 myang ke 64 tahun beliau mencapai martabat al-qhutbaniyatl uzman dan pada tanggal 18 safar pada tahun 1214 h beliau memperoleh pangkat waliyul khotmi wal katmi yakni wali khotimul wilayah secara khusus oleh sebab itu para sahabat-sahabatnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia telah memperingati peristiwa tersebut sebagai hari raya (idul khotmi ) bagi syekh ahmad at-tijani ra yang telah mencapai maqom al-khotmi(idul khotmi) dan pada tahun 1214H pula Syekh Ahmad at-atijani ra mulai meninggalkan‘uzlahnya dan pindah ke maroko untuk melegitimasi dan mengembangkan ajaran thoriqoh tijaniyah,dan menjadikan kota fez sebagai pusat thoriqoh tijaniyah yang pada saat itu diperintaholeh penguasa maulay sulaiman dan diterima dengan baik olehnya dan beliau tinggal di fez sampai wafatnya pada 22 september 1815 M pada usia 80 tahun.dan dari pusat inilah da’wah beliau menyebarsampaikeseluruhafrika,maroko,sinegal,nigeria,sudan,mesir,mekkah,medinahmalaysia,india,indonesia,dan bahkan keseluruh dunia.Syekh ali bin muhammad al-dhakhil allah pengarang buku at-tijaniah,pada tahun(1401 H / 1981 M,memperkirakan pengikut thoriqoh tijaniyah di nigeria saja mencapai tidak kurang 10 juta orang.Dan peninggalan yang paling menonjol dan berpengaruh dalam da’wah beliau adalah zawiyah tijaniah di fez dan dua buah kitabnya yang terkemuka, jawawir al-ma’ani dan bulugh al-amani fi faidhi abil abbas at-tijany,yang diedit oleh ali harazim salah seorang sahabat sekaligus murid utamanya.Sedangkan sahabat-sahabat beliau yang termahsyur antara lain:

    1. Syekh ali al-harazim abu al-hasan bin arobi buradah al-maghribi al-fezi yang meniggal di madinah,beliau adalah ulama besar.

    2. Muhammad bin masyri al-hasani al- sabihi (wafat tahun 1224H) beliau adalah pengarang kitab al-jami ‘lima iftaraka min al-ulum dan kitab nusrat al-syurafafat fi radii’ala al-jafa.

    3. Ahmad sukairij al-lyassyi (1295-1363H),lahir di fez dan belajar di universitas qarawiyin. Setelah lulus dia diangkat menjadi dosen di universitas tersebut dan beliau juga menjadi hakim dan sering mengunjungi sejumlah kota-kota besar di maroko .tahun 1318H ia menulis kitab al-kaukab al-wahhaj dan kasyf al-hijab’an mantalaqi ma’asaidi ahmad tijany min al-ashab .

    4. Umar bin sa’id bin utsman al-futi al sinegali lahir tahun 1797M di desa far, daerah di mar sinegal dan beliau pernah belajar di universitas al-azhar, tapi ketika pulang ke negerinya,beliau menyebarkan ilmunya ketengah-tengah masyarakat penganut berhalaisme. Beliau terkenal sebagai pejuang gigih dalam melawan penjajah perancis setelah beliau wafat pada tahun 1283H kepemimpinan thoriqoh tijany digantikan kepada dua orang pengikutnya karya tulisnya yang terkenal adalah rimah hizb al-rahim ‘alanuhur hizb al-rajim.

    5. Muhammad hafidzh bin abdul latif bin salim al-syarif al-hasani al-tijany al-mishri (1315-1398H) seorang tijaniyah di mesir yang telah meninggalkan sebuah perpustakaan sekarang perpustakaannya berada di zawiyah tijaniah kairo. Adapun kitab peninggalannya berjudul al-haq fi al-haq wa al- khalq, al-had al- ausath baina man afratha dan syurut al- thoriqot al-tijaniah. Beliau juga pernah sebuah majalah thariq al- haq pada tahun 1370H?/1950 M.

    Dengan demikian jelaslah bahwa syekh ahmad atijany ra,termasuk orang yang selalu memusatkan perhatian dan kemampuannya didalam taat beribadaj kepada Allah SWT

    Beliau telah mencari ilmu untuk melaksanakannya ketaatan dan beribadah kepadanya bukan untuk kepentingan hawa nafsunya .Beliau menggali thoriqohnya melakukan taubatan nasuha dengan beserta syarat-syaratnya dan memperhatikan betul batasan-batasan syariat serta mencampakan kepentingan pribadinya untuk meraih keuntungan dan penghargaan orang lain atas ibadahnya

    Hak-hak Allah SWT lebih didahulukan daripada kepentingan dirinya, ia singkap seluruh hakekat ibadah , lalu ia amalkan tanpa memperhatikan rukshoh (keringanan ) maupun ra’wilnya ,yakni beliau tidak memilih keringanan dalam beribadah tapi dilalui waktunya dengan penuh semangat dalam beribadah,Syekh ahmad tijaniyah ra,menjauhkan diri dari berbagai macam pertentangan yang tidak berguna ,ia selalu berpegang teguh kepada al-quran dan as-sunah serta yang sejalan dengan generasi pertama dari umat ini beliau hadapkan seluruh perhatiannya kepada Allah SWT bukan kepada yang lainnya .Dibina ibadahnya atas dasar taqwa kepada Allah SWT dan hanya selalu mengharapkan keridhoannya.waktu-waktu diisi dengan kesibukan mencari ilmu,mempelajari hadist-hadist dan al-quran ia selami seluk beluk dan sendi-sendi kepahamannya,ia perjuangkan dirinya dalam istiqomah dan wara ia berlepas diri dari ketergantungan kepada manusia dan hanya berharafp kepada rahmat Allah swt saja ia tundukkan pandangannya terhadap seluruh kemewahan dunia ini. Ia hanya condong kepada Allah swt dan memutuskan hubungan selain dengan dia tindakannya benar-benar meneladani hamba-hamba Allah yang zuhud kesehariannya sibuk dengan Allah,hidupnya sarat dengan pengabdiannya kepada Allah dan ia singkirkan dari hatinya semua kepentingan pribadinya ,sikapnya benar amal ikhlas dan pandangannya lurus dalam segala keadaan.

    Syekh ahamad at-tijani ra merupakan ulama terbesar pada masa kebesarannya dan keagungannya di akui oleh para ulama, dan semua itu merupakan karunia yang di berikan oleh Allah kepedanya, yang tidak dapat di tolak dan di bantah oleh siapapun, sehingga beliau di anggap sebagai pusat pendidikan bagi orang-orang yang sedang menjalani ibadah serta membantu memecahkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.dan pada masa itu, tidak ada seorangpun yang dapat mencapai martabat seperti ,apa yang telah dicapai oleh syekh ahmad at-tijany ra.ahlaknya begitu sangat mulia, sifatnya penuh dengan kelemah-lembutan, adabnya sempurna, sikapnya selalu riang gembira, rendah hati penuh ketawadhuan dan sangat pemalu. Tindakanya selalu mengikuti ketetapansyare’atagama dan adab keteladan tindakannya selalu mengikuti ketetapan syare-at agamadanadab keteladanan sunah rosullah SAW. Beliau mencintai orang-orang sholeh dan sangat menghormati para ulama beliau senantiasa istiqomah dalam kebaikan dan dan tidak menuruti kemauan hawa nafsunya.meskipun beliau telah di hina di fitnah di hujat oleh orang – orang yang beridiolagi modern dan puritanisme yang hanya mampu mengalahkan orang lain namun tidak mampu mengalakan nafsunya sendiri.

      Waktu sekarang Wed 22 Nov 2017, 10:46