Pecinta Sunnah, Ahlussunah Wal Jama'ah


    KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS

    Share
    avatar
    agung santoso

    Jumlah posting : 43
    Join date : 12.06.11

    KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS

    Post by agung santoso on Sun 06 Nov 2011, 09:08

    KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH
    AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS

    Kami mengetahui setiap
    manusia tidak luput dari kesalahan walaupun para imam atau ulama pakar
    kecuali Rasulallah saw. yang maksum. Tujuan kami mengutip kesalahan-kesalahan
    Syeikh Al-Albani ini bukan untuk memecah belah antara muslimin tapi tidak
    lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri
    masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak
    mengetahui mengenai hadits karena masih banyak kontradiksi yang beliau
    kutip didalam buku-bukunya. Dengan demikian hadits atau riwayat yang
    dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta pengikut-pengikutnya tidak bisa dipertanggung
    jawabkan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama
    madzhab lainnya.


    Contoh-contoh kesalahan
    Syeikh Albani ini yaitu umpamanya disatu halaman atau bukunya mengatakan
    hadits ..Lemah tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan
    hadits (yang sama itu) ....Shohih atau Hasan. Begitu juga
    beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi.... adalah tidak Bisa
    Dipercaya
    banyak membuat kesalahan dan sebagainya, tapi dibuku atau
    halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (yang sama ini) Dapat
    Dipercaya
    dan Baik. Begitu juga beliau disatu halaman atau
    bukunya memuji-muji perawi...atau ulama...tapi dibuku atau halaman
    lainnya beliau ini mencela perawi atau ulama (yang sama
    tersebut). Juga diantara ulama-ulama pengeritik Al-Albani ini ada yang
    berkata; Kontradiksi tentang hadits Nabi saw. itu atau perubahan pendapat
    terdapat juga pada empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi,
    Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya!


    Perubahan pendapat para
    ulama ini biasanya yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya
    sendiri. Misalnya; Disalah satu kitab mereka membolehkan suatu
    masalah sedangkan pada kitabnya yang lain memakruhkan atau mengharamkan
    masalah yang sama ini atau sebaliknya. Perubahan pendapat ulama ini
    kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan
    sebelum dan sesudahnya, tapi kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat
    atau ijtihadnya sendiri waktu mengartikan hadits yang bersangkutan
    tersebut. Dan seandainya diketemukan adanya kontradiksi mengenai hadits yang
    disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain,
    maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati lebih dari 10 hadits. Jadi
    bukan ratusan yang diketemukan.


    Tapi yang lebih aneh
    lagi ulama golongan Salafi (baca:Wahabi) tetap mempunyai keyakinan tidak
    ada kontradiksi
    atau kesalahan dalam hadits yang dikemukakan
    oleh al-AlBani tersebut tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau
    rujukan
    . Sebagaimana alasan yang mereka ungkapkan sebagai berikut;
    umpama al-Albani menetapkan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam
    kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama ini bisa
    dikatakan bahwa dia meralat atau merujuk hal tersebut! Alasan ini
    baik oleh ulama maupun awam (bukan ulama) tidak bisa diterima baik secara
    aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki ulama
    pakar oleh sekte Wahabi dan sebagai Imam Muhadditsin karena ilmu
    haditsnya seperti samudra yang tidak bertepian, seharusnya sebelum
    menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah
    hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau lemah, terputus dan
    sebagainya. Sehingga tidak memerlukan ralatan yang begitu banyak
    lagi pada kitabnya yang lain. Apalagi ralatan tersebut –yang diketemukan
    para ulama– bukan puluhan tapi ratusan! Sebenarnya yang bisa
    dianggap sebagai ralatan yaitu bila sipenulis menyatakan dibukunya
    sebagai berikut; hadits ..…yang saya sebutkan pada kitab .… sebenarnya
    bukan sebagai hadits .....(dhoif, maudhu’ dan sebagainya) tapi sebagai
    hadits...... ( shohih dan sebagainya). Dalam kata-kata semacam ini jelas
    si penulis telah mengakui kesalahannya serta meralat pada kitabnya yang
    lain. Selama hal tersebut tidak dilakukan maka ini berarti bukan
    ralatan
    atau rujukan tapi kesalahan dan kekurang telitian si
    penulis.


    Golongan Salafi/Wahabi
    ini bukan hanya tidak mau menerima keritikan ulama-ulama yang tidak
    sependapat dengan ulama mereka, malah justru sebaliknya mengecam pribadi
    ulama-ulama yang mengeritik ini sebagai orang yang bodoh, golongan
    zindik, tidak mengerti bahasa Arab
    , dan lain sebagainya. Mereka juga
    menulis hadits-hadits Nabi saw. dan wejangan ulama-ulamanya –untuk
    menjawab kritikan ini– tetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya
    dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab selain madzhab
    Salafi (baca:Wahabi)!! Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak
    mencela siapa/ bagaimana pribadi ulama pengeritik itu, tapi mereka
    langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan
    naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar
    maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan
    menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena keegoisan
    dan kefanatikan pada ulamanya sendiri sehingga mereka tidak mau
    terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan
    jalan apa pun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang
    dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya. Sayang sekali
    golongan Salafi ini merasa dirinya yang paling pandai memahami
    ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw., paling suci, dan merasa
    satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. Dengan
    demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin yang tidak
    sepaham dengan pendapatnya.


    Mari kita sekarang
    meneliti sebagian pilihan/seleksi isi buku Syeikh Saqqaf tentang
    kesalahan-kesalahan al-Albani yang kami kutip bahasa Inggrisnya dan kami
    terjemahkan serta susun semampunya dari versi bahasa Inggris dengan
    judul
    ‘Al-Albani’s Weakening
    of Some of Imam Bukhari and Muslim’s Ahadit
    . Kitab asli bahasa Arabnya berjudul ‘Tanaqadat al-Albani al-Wadihat’ (Kontradiksi yang nyata/ jelas pada Al-Albani)
    oleh Syeikh Saqqaf, Amman,
    Jordania.





    AL-ALBANI'S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM'S
    AHADITH.


    Al-Albani
    melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam
    Muslim.




    Al-Albani has said in
    "Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, pg. 27-28" (8th edition, Maktab
    al-Islami) by Shaykh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), that any
    Hadith coming from the Shohih collections of al-Bukhari and Muslim is
    Shohih, not because they were narrated by Bukhari and Muslim, but because
    the Ahadith are in fact correct. But he clearly contradicts himself,
    since he has weakened Ahadith from Bukhari and Muslim himself! Now let us
    consider this information in the light of elaboration :-




    Syekh Al-Albani telah
    berkata didalam Syarh Al-Aqidah at-Tahaweeah hal.27-28 cet.ke 8
    Maktab Al-Islami oleh Sjeik Ibn Abi Al-Izz Al-Hanafi
    (Rahimahullah).
    Hadits-hadits shohih yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim bukan
    karena diriwayatkan oleh mereka tapi karena hadits-hadits tersebut
    sendiri shohih”.
    !


    Tetapi dia (Albani)
    telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri karena pernah melemahkan
    hadits dari dua syeikh tersebut. Mari kita lihat beberapa hadits dari
    Imam Bukhori dan Imam Muslim yang dilemahkan oleh Syekh al-Albani
    keterangan berikut ini :




    Selected translations from
    volume 1.



    Terjemahan-terjemahan
    yang terpilih dari jilid (volume) 1.




    No.1: (*Pg. 10 no. 1 )
    Hadith: The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) said:
    "Allah says I will be an opponent to 3 persons on the day of
    resurrection: (a) One who makes a covenant in my Name but he proves
    treacherous, (b) One who sells a free person (as a slave) and eats the
    price (c) And one who employs a laborer and gets the full work done by
    him, but doesn't pay him his wages." [Bukhari no 2114-Arabic
    version, or see the English version 3/430 pg 236]. Al-Albani said that
    this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Z iyadatuh, 4/111 no.
    4054". Little does he know that this Hadith has been narrated by
    Ahmad and Bukhari from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!!




    No.1:
    (Hal. 10 nr.1) Sabda Rasulallah saw. bahwa Allah swt.berfirman: Aku
    musuh dari 3 orang pada hari kebangkitan ;
    a) Orang yang
    mengadakan perjanjian atas NamaKu, tetapi dia sendiri melakukan
    pengkhianatan atasnya
    b) Orang yang menjual orang yang merdeka
    sebagai budak dan makan harta hasil penjualan tersebut
    c) orang
    yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi
    dia tidak mau membayar gajihnya.
    (Bukhori no.2114 dalam versi bahasa
    Arab atau dalam versi bahasa Inggris 3/430 hal. 236). Al-Albani
    berkata dalam Dhaif Al-jami wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054. bahwa
    hadits ini lemah. Dia (Al-Albani) memahami hanya sedikit tentang
    hadits, hadits diatas ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori dari Abu
    Hurairah ra.




    No.2: (*Pg. 10 no. 2 )
    Hadith: "Sacrifice only a grown up cow unless it is difficult for
    you, in which case sacrifice a ram." [Muslim no. 1963-Arabic
    edition, or see the English version 3/4836 pg. 1086]. Al-Albani said that
    this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 no.
    6222." Although this Hadith has been narrated by Imam's Ahmad,
    Muslim, Abu Dawood, Nisai and Ibn Majah from Jaabir (Allah be pleased
    with him)!!




    No.2: (Hal.
    10 nr.2) Hadits : “Korbanlah satu sapi muda kecuali kalau itu sukar
    buatmu maka korbanlah satu domba jantan”
    ( Muslim nr.1963 dalam versi
    bahasa Arab yang versi bahasa Inggris 3/4836 hal.1086). Al-Albani berkata
    Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 nr. 6222 bahwa hadits ini lemah.
    Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud,
    Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir ra.




    No.3: (*Pg. 10 no. 3 )
    Hadith: "Amongst the worst people in Allah's sight on the Day of
    Judgement will be the man who makes love to his wife and she to him, and
    he divulges her secret." [Muslim no. 1437- Arabic edition].
    Al-Albani claims that this Hadith is DAEEF in "Daeef al-Jami wa
    Ziyadatuh, 2/197 no. 2005." Although it has been narrated by Muslim
    from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!!




    No.3:
    (Hal.10 nr.3) Hadits: ‘Termasuk orang yang paling buruk
    dan Allah swt. akan mengadilinya pada hari pembalasan yaitu suami yang
    berhubung- an dengan isterinya dan isteri berhubungan dengan suaminya dan
    dia menceriterakan rahasia isterinya
    (pada orang lain)
    (Muslim nr.1437 penerbitan dalam bahasa Arab). Al-Albani menyatakan dalam
    Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 nr. 2005 bahwa hadits ini lemah.
    Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Sayyed ra.




    No.4: (*Pg. 10 no. 4 )
    Hadith: "If someone woke up at night (for prayers) let him begin his
    prayers with 2 light rak'ats." [Muslim no. 768]. Al-Albani stated
    that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 no.
    718." Although it is narrated by Muslim and Ahmad from Abu Hurayra
    (may Allah be pleased with him)!!




    No.4:
    (Hal.10 nr.4) Hadits: “Bila seorang bangun malam (untuk sholat),
    maka mulailah sholat dengan 2 raka’at ringan”
    (Muslim nr. 768).
    Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan
    bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh
    Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.




    No.5: (*Pg. 11 no. 5 )
    Hadith: "You will rise with shining foreheads and shining hands and
    feet on the Day of Judgement by completing Wudhu properly. . . . . . .
    ." [Muslim no. 246]. Al-Albani claims it is DAEEF in "Daeef
    al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 no. 1425." Although it has been narrated
    by Muslim from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!!




    No.5:
    (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‘Engkau akan naik keatas dihari kiamat dengan
    cahaya dimuka, cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu’ yang sempurna’
    (Muslim
    nr 246). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425 menyatakan
    bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh
    Muslim dari Abu Hurairah.




    No.6: (*Pg. 11 no. 6 )
    Hadith: "The greatest trust in the sight of Allah on the Day of
    Judgement is the man who doesn't divulge the secrets between him and his wife."
    [Muslim no's 124 and 1437] Al-Albani claims it is DAEEF in "Daeef
    al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 no. 1986." Although it has been narrated
    by Muslim, Ahmad and Abu Dawood from Abi Sayyed (Allah be pleased with
    him)!!




    No.6:
    (Hal.11 nr. 6) Hadits: ‘orang yang dimuliakan disisi Allah pada hari
    pembalasan
    (kiamat) ialah yang tidak membuka rahasia antara dia
    dan isterinya’.
    (Muslim nr.124 dan 1437). Al-Albani dalam Dhaeef
    Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 nr. 1986
    menyatakan bahwa hadits ini lemah.
    Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abi
    Sayyed.




    No.7: (*Pg. 11 no. 7
    )Hadith: "If anyone READS the last ten verses of Surah al-Kahf he
    will be saved from the mischief of the Dajjal." [Muslim no. 809].
    Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa
    Ziyadatuh, 5/233 no. 5772."


    NB- The word used by Muslim
    is MEMORIZED and not READ as al-Albani claimed; what an awful mistake!
    This Hadith has been narrated by Muslim, Ahmad and Nisai from Abi Darda
    (Allah be pleased with him)!! (Also recorded by Imam Nawawi in
    "Riyadh us-Saliheen, 2/1021" of the English ed'n).




    No.7:
    (Hal.11 nr.7) Hadits: ‘Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari
    Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal ‘
    (Muslim
    nr. 809). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772
    menyatakan hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh
    Muslim, Ahmad dan Nasa’i dari Abi Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi
    dalam Riyadhos Sholihin 2/1021 dalam versi Inggris).


    NotaBene: Didalam
    riwayat Muslim disebut Menghafal (10 surat terakhir Al-Kahfi)
    bukan Membaca sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah
    kesalahan yang nyata !




    No.8: (*Pg. 11 no. 8 )
    Hadith: "The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) had a
    horse called al-Laheef." [Bukhari, see Fath al-Bari of Hafiz Ibn
    Hajar 6/58 no. 2855]. But Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in
    "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 no. 4489." Although it has
    been narrated by Bukhari from Sahl ibn Sa'ad (Allah be pleased with him)!!!
    Shaykh Saqqaf said: "This is only anger from anguish, little from a
    lot and if it wasn't for the fear of lengthening and boring the reader, I
    would have mentioned many other examples from al-Albani's books whilst
    reading them. Imagine what I would have found if I had traced everything
    he wrote?"




    AL-ALBANI'S INADEQUACY IN
    RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20) Shaykh Saqqaf said: "The strange and
    amazing thing is that Shaykh l-Albani misquoted many great Hadith
    scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or
    indirectly! He crowns himself as an unbeatable source and even tries to
    imitate the great scholars by using such terms like "Lam aqif ala
    sanadih", which means "I could not find the chain of
    narration", or using similar phrases! He also accuses some of the
    best memorizers of Hadith for lack of attention, even though he is the
    one best described by that!"




    No. 8 (Hal.11 nr. Cool
    Hadits: Rasulallah saw. mempunyai seekor kuda bernama Al Laheef’’
    (Bukhori, lihat Fath Al-Bari oleh Hafiz ibn Hajar 6/58 nr.2855). Tapi
    Al-Albani dalam "Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 nr. 4489 berkatabahwa hadits ini lemah. Walaupun diriwayatkan oleh Bukhori
    dari Sahl Ibn Sa’ad ra.


    Syeikh Segaf berkata :
    Ini hanya marah dari sakit hati ! Kalau tidak karena takut terlalu
    panjang dan pembaca menjadi bosan karenanya saya akan sebutkan banyak
    contoh-contoh dari buku-buku Al-Albani ..............)




    AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA(jilid 1 hal.20)

    Syeikh Seggaf berkata: ‘ Sangat heran
    dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak
    hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli
    hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain
    semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani ! . Dia mendudukkan dirinya
    sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia sering meniru kata-kata
    para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu hadits) ‘Lam aqif ala
    sanadih’
    artinya ‘ Saya tidak menemukan rantaian sanadnya’ atau
    dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar
    penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia sendiri
    merasa sebagai penulis yang paling baik.




    Now
    for some examples to prove our point:



    Beberapa contoh-contoh bukti yang dimaksud berikut ini :




    No.9: (* Pg. 20 no. 1 )
    Al-Albani said in "Irwa al-Ghalil, 6/251 no. 1847" (in
    connection to a narration from Ali): "I could not find the
    sanad." Shaykh Saqqaf said: "Ridiculous! If this al-Albani was
    any scholar of Islam, then he would have known that this Hadith can be
    found in "Sunan al-Bayhaqi, 7/121" :- Narrated by Abu Sayyed
    ibn Abi Amarah, who said that Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaqoob who said
    to us that Ahmad ibn Abdal Hamid said that Abu Usama from Sufyan from
    Salma ibn Kahil from Mu'awiya ibn Soayd who said, 'I found this in my
    fathers book from Ali (Allah be pleased with him).'"




    No.9: (Hal. 20
    nr.1) Al-Albani dalam "Irwa Al-Ghalil, 6/251 nr. 1847"
    berkata: (riwayat dari Ali): ‘ Saya tidak menemukan sanadnya”.


    Syeikh Seggaf berkata:
    ‘Menggelikan! Bila Al-Albani ini orang yang terpelajar dalam Islam
    maka dia akan tahu bahwa hadits ini ada dalam Sunan Al-Baihaqi 7/121
    diriwayatkan dari Abi Sayyed ibn Abi Amarah yang katanya bahwa Abu
    Al-Abbas Muhammad ibn Yaqub berkata pada kami bahwa Ahmad ibn Abdal Hamid
    berkata, bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma ibn Kahil dari Mu’awiyah
    ibn Soayd berkata, Saya menemukan ini dalam buku ayah saya dari Ali kw.




    No.10: (* Pg. 21 no. 2 )
    Al-Albani said in 'Irwa al-Ghalil, 3/283': Hadith of Ibn Umar 'Kisses are
    usury,' I could not find the sanad." Shaykh Saqqaf said: "This
    is outrageously wrong for surely this is mentioned in 'Fatawa al-Shaykh
    ibn Taymiyya al-Misriyah (3/295)': 'Harb said Obaidullah ibn Mu'az said
    to us, my father said to me that Soayd from Jiballa who heard Ibn Umar
    (Allah be pleased with him) as saying: Kisses are usury.' And these
    narrators are all authentic according to Ibn Taymiyya!"




    No.10:
    (Hal.21 nr.2) Al-Albani dalam 'Irwa Al-Ghalil, 3/283' berkata;
    Hadits dari Ibn Umar (Ciuman-ciuman adalah bunga yang tinggi
    [riba’) Saya tidak menemukan sanadnya.


    Syeikh Seggaf berkata:
    Ini kesalahan yang sangat aneh ! Ini sudah ada didalam Fatwa Syeikh Ibn
    Taimiyya Al-Misriyah 3/295: “Harb berkata bahwa Ubaidullah ibn Mu’az
    berkata pada kita; ayah saya berkata bahwa Suaid dari Jiballa mendengar
    dari Ibn Umar ra berkata: ‘ Ciuman-ciuman itu adalah (bunga?) yang tinggi
    ‘ Dan perawi-perawi dapat dipercaya menurut Ibn Taimiyyah !




    No.11: (* Pg. 21 no. 3 )
    Hadith of Ibn Masood (Allah be pleased with him): "The Qur'an was
    sent down in 7 dialects. Everyone of its verses has an explicit and
    implicit meaning and every interdiction is learly defined."
    Al-Albani stated in his checking of "Mishkat ul-Masabih, 1/80 no.
    238" that the author of Mishkat concluded many Ahadith with the
    words "Narrated in Sharh us-Sunnah," but when he examined the
    chapter on Ilm and in Fadail al-Qur'an he could not find it! Shaykh
    Saqqaf said: "The great scholar has spoken! Wrongly as usual. I wish
    to say to this fraud that if he is seriously interested in finding this
    Hadith we suggest he looks in the chapter entitled 'Al-Khusama fi
    al-Qur'an' from Sharh-us-Sunnah (1/262), and narrated by Ibn Hibban in
    his Shohih (no. 74), Abu Ya'ala in his Musnad (no.5403), Tahawi in Sharh
    al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) and Haythami
    has mentioned it in Majmoo'a al-Zawaid (7/152) and he has ascribed it to
    Bazzar, Abu Ya'ala and Tabarani in al-Awsat who said that the narrators
    are trustworthy."




    No.11:
    (Hal.21 nr.3) Hadits dari Ibn Mas’ud ra : ‘Al-Qur’an diturunkan dalam
    tujuh
    (macam) bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang
    kurang jelas dan setiap larangan itu jelas
    ....(ada batasnya) ‘
    Al-Albani dalam Mishkat ul-Masabih, 1/80 nr. 238 menyatakan
    menurut penyelidikannya bahwa pengarang/penulis Mishkat memutuskan banyak
    hadits dengan kata-kata “diceriterakan/diriwayatkan dalam Syarh As
    Sunnah” tapi waktu dia (Albani) menyelidiki bab masalah Ilmu dan
    Keutamaan Al-Qur’an tidak menemukan hal itu !


    Syeikh Seggaf berkata:
    ‘Ulama yang paling pandai telah berbicara kesalahan yang sudah
    biasa. Dengan kebohongan itu saya ingin mengata= kan, bila dia
    benar-benar tertarik untuk menemukan ini hadits, kami mengusulkan
    agar dia melihat dalam bab yang berjudul 'Al-Khusama fi
    Al-Qur'an van Sharh-us-Sunnah (1/262)
    dan diriwayatkan oleh Ibn
    Hibban dalam shohihnya nr. 74, Abu Ya’la dalam Musnadnya nr. 5403, Tahawi
    dalam Sharh Al Mushkil Al-Athar 4/172, Bazzar dalam Kash Al-Asrar 3/90,
    Haitami telah menyatakan dalam Majmu’a Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk
    kepada Bazzar, Abu Ya’la dan Tabrani dalam Al-Awsat yang berkata bahwa
    semua perawinya bisa dipercayai.




    No.12: (* Pg. 22 no. 4 )
    Al-Albani stated in his "Shohihah, 1/230" while he was
    commenting on Hadith no. 149: "The believer is the one who does not
    fill his stomach. . . . The Hadith from Aisha as mentioned by Al-Mundhiri
    (3/237) and by Al-Hakim from Ibn Abbas, I (Albani) could not find it in
    Mustadrak al-Hakim after checking it in his 'Thoughts' section."
    Shaykh Saqqaf said: "Please don't encourage the public to fall into
    the void of ignorance which you have tumbled into! If you check Mustadrak
    al-Hakim (2/12) you will find it! This proves that you are unskilled at
    using book indexes and the memorization of Hadith!"




    No.12:
    (hal.22 nr.4) Al-Albani berkata dalam Shahiha, 1/230 waktu dia
    memberi komentar tentang hadits nr. 149; “ Orang yang beriman
    ialah orang yang perutnya tidak kenyang...

    hadits ini dari Aisyah yang disebutkan dalam Al-Mudhiri 3/237 dan Al-Hakim
    dari Ibn Abbas. Saya (Albani) tidak menemukan dalam Mustadrak Al-Hakim
    setelah penyelidikannya dan menurut pasal pikirannya.





    Syeikh Seggaf berkata:
    Tolong jangan berani menjatuhkan masyarakat kepada kebodohan yang
    sia-sia, yang mana engkau sudah terperosok didalamnya! Kalau engkau akan
    mencari dalam Mustadrak Al-Hakim 2/12 maka dia akan engkau dapati ! Ini
    membuktikan bahwa engkau sendiri tidak ahli menggunakan buku index dan
    memberitakan dari Hadits.




    No.13: (* Pg. 23 ) Another
    ridiculous assumption is made by al-Albani in his "Shohihah,
    2/476" where he claims that the Hadith: "Abu Bakr is from me,
    holding the position of (my) hearing" is not in the book 'Hilya'. We
    suggest you look in the book "Hilya , 4/73!"




    No.13:
    (Hal.23) Lebih menggelikan lagi dugaan yang dibuat oleh
    Al-Albani dalam Shohihah, 2/476 yang mana dia menyatakan bahwa hadits: ‘Abu
    Bakar dari saya dan dia menempati posisi saya
    ’ tidak ada didalam
    ‘Hilya’. Saya usulkan agar anda melihat didalam "Hilya, 4/73
    "
    !




    No.14: (*Pg. 23 no. 5
    )Al-Albani said in his "Shohihah, 1/638 no. 365, 4th edition":
    "Yahya ibn Malik has been ignored by the 6 main scholars of Hadith,
    for he was not mentioned in the books of Tahdhib, Taqreeb or
    Tadhhib." Shaykh Saqqaf: "That is what you say! It is not like
    that, for surely he is mentioned in Tahdhib al-Tahdhib of Hafiz ibn Hajar
    al-Asqalani (12/19 Dar al-Fikr edition) by the nickname Abu Ayoob
    al-Maraagi!! So beware!




    No.14 (Hal.23 nr. 5)
    Al-Albani dalam "Shohihah, 1/638 nr. 365, cet.ke 4" mengatakan
    : Yahya Ibn Malik tidak dikenal/termasuk 6 ahli hadits karena dia
    ini tidak tercatat Tahdzib, Taqreeb dan Tadzhib.


    Syeikh Seggaf berkata:
    ‘Itu menurut anda! Sebenarnya bukan begitu, nama julukannya
    ialah Abu Ayub Al-Maraagi dan ini ada didalam Tahdzib, Al-Tahdzib
    disebutkan oleh Hafiz ibn Hajar Al-Asqalani 12/19 cet.Dar Al-Fikr !
    Hati-hatilah!




    FURTHER
    EXAMPLES OF AL-ALBANI'S CONTRADICTIONS


    MASIH BANYAK CONTOH KONTRADIKSI DARI AL-ALBANI !



    No 15 : (* Pg. 7 )Al-Albani
    has criticized the Imam al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq
    al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book "al-Kanz
    al-Thameen" a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)
    with reference to the narrator Abu Maymoona: "Spread salaam, feed
    the poor. . . ."





    Al-Albani said in
    "Silsilah al-Daeefa, 3/492", after referring this Hadith to
    Imam Ahmad (2/295) and others: "I say this is a weak sanad,
    Daraqutni has said 'Qatada from Abu Maymoona from Abu Hurayra: Unknown,
    and it is to be discarded.'" Al-Albani then said on the same page:
    "Notice, a slapdash has happened with Suyuti and Munawi when they
    came across this Hadith, and I have also shown in a previous reference,
    no. 571, that al-Ghimari was also wrong for mentioning it in
    al-Kanz." But in reality it is al-Albani who has become slapdashed,
    because he has made a big contradiction by using this same sanad in
    "Irwa al-Ghalil, 3/238" where he says, "Classified by
    Ahmad (2/295), al-Hakim . . . from Qatada from Abu Maymoona, and he is
    trusted as in the book 'al-Taqreeb', and Hakim said: 'A Shohih sanad',
    and al-Dhahabi agreed with Hakim! So, by Allah glance at this mistake!
    Who do you think is wrong, the Muhaddith al-Ghimari (also Suyuti and
    Munawi) or al-Albani?




    No.15. (Hal.7)
    Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn Al-Siddiq
    Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu Hurairah
    ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu
    Maymuna ; ‘Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..





    ” Al-Albani berkata
    dalam Silsilah Al-Daifa, 3/492 setelah merujuk hadits ini pada
    Imam Ahmad 2/295 dan lain-lain : Saya berkata bahwa sanadnya lemah,
    Daraqutni juga berkata ‘Qatada dari Abu Maymoona dari Abu Hurairah tidak
    dikenal dan itu harus dikesampingkan “. Al-Albani berkata pada
    halaman yang sama; ‘Pemberitahuan, pukulan bagi Suyuti dan Munawi, waktu
    mereka menemukan hadits ini, dan saya juga telah menunjuk kan dalam
    referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari itu telah salah menyebutkan
    (hadits) itu dalam Al-kanz.





    Tetapi sebenarnya
    Al-Albani-lah yang terkena pukulan, sebab sangat bertentangan
    dengan perkataannya dalam Irwa Al-Ghalil, 3/238 yang
    meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‘ Diklasifikasikan oleh Ahmad
    (2/295), al-Hakim....dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mepercayainya
    sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan Hakim
    berkata; Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !


    Begitulah Allah langsung
    melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang selalu
    salah; Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ?




    No 16 : (* Pg. 27 no. 3 )
    Al-Albani wanted to weaken a Hadith which allowed women to wear golden
    jewellery, and in the sanad for that Hadith there is Muhammad ibn Imara.
    Al-Albani claimed that Abu Haatim said that this narrator was: "Not
    that strong," see the book "Hayat al-Albani wa-Atharu. . . part
    1, pg. 207." The truth is that Abu Haatim al-Razi said in the book
    'al-Jarh wa-Taadeel, 8/45': "A good narrator but not that strong. .
    ." So note that al-Albani has removed the phrase "A good
    narrator !"





    NB-(al-Albani has made many
    of the Hadith which forbid Gold to women to be Shohih, in fact other
    scholars have declared these Hadith to be daeef and abrogated by other
    Shohih Hadith which allow the wearing of gold by women. One of the well
    known Shaykh's of the "Salafiyya" - Yusuf al-Qardawi said in
    his book: 'Islamic awakening between rejection and extremism, pg. 85:
    "In our own times, Shaykh Nasir al-Din al-Albani has come out with
    an opinion, different from the consensus on permitting women to adorn
    themselves with gold, which has been accepted by all madhahib for the
    last fourteen centuries. He not only believes that the isnad of these
    Ahadith is authentic, but that they have not been revoked. So, he
    believes, the Ahadith prohibit gold rings and earrings." So who is
    the one who violates the ijma of the Ummah with his extreme opinions?!)




    No 16
    (Hal.27 nr. 3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan wanita
    memakai perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad ibn Imara.
    Al-Albani menyatakan bahwa Abu Haatim berkata perawi ini ” tidak kuat “,
    lihat buku Hayat Al-Albani wa-Atharu ..jilid 1 hal.207.


    Yang benar ialah bahwa
    Abu Haatim Al-Razi dalam buku 'Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45 berkata: “
    Perawi yang baik tapi tidak sangat kuat....” Jadi lihat pada
    catatan Al-Albani bahwa kalimat “Perawi yang baik “ dibuang !





    NotaBene: Al-Albani
    telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan larangan emas
    (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal kenyataannya para Ulama
    lain menyatakan hadits-hadits ini lemah dan berlawanan dengan hadits
    Shohih yang memperbolehkan pemakaian (perhiasan) emas oleh kaum wanita.
    Salah seorang Syeikh ‘Salafiah’ terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam
    bukunya Islamic awakening between rejection and extremism, halaman 85
    : “Dalam zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din telah muncul dengan
    suatu pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan wanita-wanita
    menghias diri mereka dengan emas, yang telah diterima/ disetujui oleh
    semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak hanya
    mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini dapat dipercaya, tapi
    bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. Maka
    dia percaya
    hadits-hadits tersebut melarang cincin dan anting-anting emas “. Lalu
    siapa yang merusak kesepakatan (ijma’) ummat dengan pendapat-pendapatnya
    yang ekstrem ?




    No 17: (* Pg. 37 no. 1
    )Hadith: Mahmood ibn Lubayd said, "Allah's Messenger (Sall Allahu
    alaihi wa Aalihi wa Sallim) was informed about a man who had divorced his
    wife 3 times (in one sitting), so he stood up angrily and said: 'Is he
    playing with Allah's book whilst I am still amongst you?' Which made a
    man stand up and say, 'O Allah's Messenger, shall I not kill him?'"
    (al-Nisai). Al-Albani declared this Hadith to be Daeef in his checking of
    "Mishkat al-Masabih, 2/981, 3rd edition, Beirut, 1405 A.H; Maktab
    al-Islami", where he says: "This man (the narrator) is
    reliable, but the isnad is broken or incomplete for he did not hear it
    directly from his father." Al-Albani then contradicts himself in the
    book "Ghayatul Maram Takhreej Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261,
    pg. 164, 3rd Edn, Maktab al-Islami, 1405 A.H"; by saying it is SHOHIH!!!




    No 17 (Hal.
    37 nr. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‘Rasulallah saw. telah
    diberitahu mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x dalam satu
    waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‘Apakah
    dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada
    dilingkungan engkau ?
    Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai
    Rasulallah, apakah dia tidak saya bunuh saja ?
    (Al-Nisa’i).


    Al-Albani menyatakan
    hadits ini lemah menurut penyelidikannya dari kitab ‘Mishkat
    Al-Masabih 2/981 cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami ‘ yang
    mengatakan “ Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak
    komplit, karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya”. Al-Albani
    berkata berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram
    Takhreej Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga
    Maktab Al-Islami, 1405 A.H" telah mengatakan bahwa hadits itu Shohih
    !!




    No 18 : (* Pg. 37 no.
    2)Hadith: "If one of you was sleeping under the sun, and the shadow
    covering him shrank, and part of him was in the shadow and the other part
    of him was in the sun, he should rise up." Al-Albani declared this
    Hadith to be SHOHIH in "Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761)",
    but then contradicts himself by saying it is DAEEF in his checking of
    "Mishkat ul-Masabih, 3/1337 no. 4725, 3rd Ed" and he has
    referred it to the Sunan of Abu Dawood!"




    No 18 (Hal.37 nr.2)
    Hadits; “Bila salah satu dari engkau tidur dibawah sinar matahari dan
    bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya didalam naungan dan
    sebagiannya lagi dibawah sinar matahari, maka dia harus bangun” .
    Al-Albani menyatakan hadits ini shohih dalam Shohih Al-Jami
    Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan
    dengannya karena mengatakan hadits ini lemah dalam penyelidikannya
    dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits
    ini pada Sunan Abu Daud.




    No 19 : (* Pg. 38 no. 3
    )Hadith: "The Friday prayer is obligatory on every Muslim."
    Al-Albani rated this Hadith to be DAEEF in his checking of "Mishkat
    al-Masabih, 1/434", and said: "Its narrators are reliable but
    it is discontinuous as is indicated by Abu Dawood". He then
    contradicts himself in "Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592", and says
    it is SHOHIH!!! So beware o wise men!




    No. 19 (Hal.38 nr.
    3) Hadits : “Sholat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim” Al-Albani
    menganggap hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari De Mishkat
    Al-Masabih, 1/434 dan katanya; Perawi dari hadits ini bisa dipercaya,
    tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. Kalau begitu
    dia bertentangan dengan perkataannya dalam’ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592’
    dan mengatakan hadits ini Shohih ! Hati-hatilah sedikit, wahai
    orang bijaksana !




    No 20 : (* Pg. 38 no. 4 )
    Al-Albani has made another contradiction. He has trusted Al-Muharrar ibn
    Abu Hurayra in one place and then weakened him in another. Al-Albani
    certifies in "Irwa al-Ghalil, 4/301" that Muharrar is a trustee
    with Allah's help, and Hafiz (Ibn Hajar) saying about him
    "accepted", is not accepted, and therefore the sanad is Shohih.
    He then contradicts himself in "Shohihah 4/156" where he makes
    the anad DAEEF by saying: "The narrators in the sanad are all
    Bukhari's (i.e.; used by Imam al-Bukhari) men, except for al-Muharrar who
    is one of the men of Nisai and Ibn Majah only. He was not trusted accept
    by Ibn Hibban, and that's why al-Hafiz Ibn Hajar did not trust him,
    Instead he only said 'accepted!'" So beware of this fraud!




    No.20 (Hal. 38 nr.
    4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. Dia disatu tempat mempercayai Al-Muharrar
    ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia melemahkannya.
    Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar dengan
    bantuan Allah seorang yang dapat dipercayai dan Hafiz (Ibnu Hajar)
    berkata mengenai dia “dapat diterima”, tidak dapat diterima,
    dan oleh karenanya sanadnya Shohih.





    Maka dia (Albani)
    berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang mana dia
    melemahkan sanad sambil mengatakan: ‘Perawi-perawi dalam sanad ialah
    semua orang-orang didalam Bukhori (lain kata orang-orang yang dicantumkan
    oleh Imam Bukhori) kecuali Al-Muharrar dia hanya salah satu dari
    orang-orang Nasa’i dan Ibn Majah . Dia tidak dipercaya oleh Ibn Hibban
    dan oleh karenanya Al Hafiz Ibn Hajar tidak mempercayainya, daripada itu
    dia hanya mengatakan “dapat diterima” .Hatilah-hatilah dari
    kebohongan !




    No 21 : (* Pg. 39 no. 5 )
    Hadith: Abdallah ibn Amr (Allah be pleased with him): "The Friday
    prayer is incumbent on whoever heard the call" (Abu Dawood).
    Al-Albani stated that this Hadith was HASAN in "Irwa al-Ghalil
    3/58", he then contradicts himself by saying it is DAEEF in
    "Mishkatul Masabih 1/434 no 1375"!!!




    No.21 (Hal.
    39 nr. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. “ Sholat Jumat wajib bagi orang
    yang sudah mendengar panggilan (adzan)”
    (Abu Daud). Al-Albani
    menyatakan hadits ini Hasan dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”, dan
    dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan hadits ini lemah
    dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !




    No 22 : (* Pg. 39 no. 6
    ) Hadith: Anas ibn Malik (Allah be pleased with him) said that the
    Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) used to say : "Do
    not be hard on yourself, otherwise Allah will be hard on you. When a
    people were hard on themselves, then Allah was hard on them." (Abu
    Dawood) Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in his checking of
    "Mishkat, 1/64", but he then contradicts himself by saying that
    this Hadith is HASAN in "Ghayatul Maram, pg. 141"!!




    No.22
    (Hal. 39 nr. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata bahwa
    Rasulallah saw. telah bersabda: “Janganlah keras terhadap dirimu,
    dengan demikian Allah juga akan keras terhadapmu, bilamana manusia keras
    terhadap dirinya maka Allah akan keras juga terhadap mereka
    ”. (Abu
    Daud). Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan
    bahwa hadits ini lemah. Tapi dia lalu berlawanan dengan
    perkataannya di "Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini Hasan
    !!




    No 23: (* Pg. 40 no. 7 )
    Hadith of Sayyida Aisha (Allah be pleased with her): "Whoever tells
    you that the Prophet (Peace be upon him) used to urinate while standing,
    do not believe him. He never urinated unless he was sitting."
    (Ahmad, Nisai and Tirmidhi ) Al-Albani said that this sanad was DAEEF in
    "Mishkat 1/117." He then contradicts himself by saying it is
    SHOHIH in "Silsilat al-Ahadith al-Shohihah 1/345 no. 201"!!! So
    take a glance dear reader!




    No.23
    (Hal.40 nr. 7) Hadits dari ‘Aisyah ra : “Siapapun yang mengatakan
    bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri, janganlah dipercayai.
    Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk”
    (Ahmad,Nasa’i dan
    Tirmidzi). Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini lemah.
    Dia bertentangan dengan perkataannya di “Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah
    1/345 nr.201” bahwa hadits ini Shohih !




    No 24 : (* Pg. 40 no. 8 )
    Hadith "There are three which the angels will never approach: The
    corpse of a disbeliever, a man who wears ladies perfume, and one who has
    had sex until he performs ablution" (Abu Dawood). Al-Albani corrected
    this Hadith in "Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh, 3/71 no.
    3056" by saying it was HASAN in the checking of "Al-Targhib
    1/91" [Also said to be Hasan in the English translation of 'The
    Etiquettes of Marriage and Wedding, pg. 11]. He then makes an obvious
    contradiction by saying that the same Hadith was DAEEF in his checking of
    "Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464" and says that the narrators
    are trustworthy but the chain is broken between Al-Hasan al-Basri and
    Ammar (Allah be pleased with him) as al-Mundhiri had said in al-Targhib
    (1/91)!!




    No.24
    (Hal.40 nr.Cool Hadits : “Tiga macam orang yang malaikat tidak mau
    mendekatinya : Mayit orang kafir, lelaki yang memakai minyak wangi wanita
    dan orang yang telah berhubungan sex
    (junub) sampai dia bersuci
    ” (Abu Daud). Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam Shohih
    Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056
    dengan mengatakan
    hadits itu Hasan dalam penyelidikan dari Al-Targhib 1/91 (juga
    mengatakan Hasan dalam Terjemahannya kedalam bahasa Inggris “The
    Etiquettes of Marriage and Wedding, page 11). Dia membuat kontradiksi
    yang nyata dalam penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464
    mengatakan hadits yang sama ini Lemah, dan dia berkata bahwa
    perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai sanadnya terputus antara
    Hasan Basri dan Ammar sebagaimana yang disebutkan juga oleh
    Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !!




    No 25 : (* Pg. 42 no. 10 )
    It reached Malik (Rahimahullah) that Ibn Abbas (Allah be pleased with
    him) used to shorten his prayer, in distances such as between Makkah and
    Ta'if or between Makkah and Usfan or between Makkah and Jeddah. . . .
    Al-Albani has weakened it in "Mishkat, 1/426 no. 1351", and
    then contradicts himself by saying it is SHOHIH in "Irwa al-Ghalil,
    3/14"!!




    No.25
    (Hal. 42 nr. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh “bahwa Ibn Abbas
    ra. biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak antara Makkah dan
    Ta’if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah
    .....”
    Al-Albani telah melemahkannya dalam Mishkat, 1/426 nr.1351, dan
    dia bertentangan dengan perkataannya di Irwa al-Ghalil 3/14 yang
    mengatakan ini Shahih !




    No 26 : (* Pg. 43 no. 12 )
    Hadith: "Leave the Ethiopians as long as they leave you, because no
    one takes out the treasure of the Ka'ba except the one with the two weak
    legs from Ethiopia." Al-Albani has weakened this Hadith in his
    checking of "Mishkat 3/1495 no. 5429" by saying: "The
    sanad is DAEEF." But then he contradicts himself as is his habit, by
    correcting it in "Shohihah, 2/415 no. 772."




    No. 26. (Hal.43
    nr.12) Hadits : “Tinggalkan orang-orang Ethiopia selama mereka
    meninggalkanmu, sebab tidak ada orang yang mengambil barang berharga dari
    Ka’bah kecuali seorang Ethopia yang dua kakinya lemah
    ” . Al-Albani
    dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr. 5429 mengatakan sanadnya Lemah.
    Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkata- annya dengan membenarkannya
    dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !




    An
    example of al-Albani praising someone in one place and then disparaging
    him in another place in his books





    Contoh (Sifat) dari Al-Albani ialah pertama memuji seseorang disatu
    tempat dibukunya dan dilain tempat mengecilkan orang tersebut.!!




    No 27 : (* Pg. 32 ) He
    praises Shaykh Habib al-Rahman al-Azami in the book 'Shohih al Targhib wa
    Tarhib, page 63', where he says: "I want you to know one of the
    things that encouraged me to. . . . which has been commented by the
    famous and respected scholar Shaykh Habib al-Rahman al-Azami" . . .
    . And he also said on the same page, "And what made me more anxious
    for it, is that its checker, the respected Shaykh Habib al-Rahman
    al-Azami has announced. . . ." Al-Albani thus praises Shaykh
    al-Azami in the above mentioned book; but then makes a contradiction in
    the introduction to 'Adaab uz Zufaaf (The Etiquettes of Marriage and
    Wedding), new edition page 8', where he said: "Al-Ansari has used in
    the end of his letter, one of the enemies of the Sunnah, Hadith and
    Tawhid, who is famous for that, is Shaykh Habib al-Rahman al-Azami. . . .
    . For his cowardliness and lack of scholarly deduction. . . .."




    No.27
    (Hal. 32) Dia (Albani) memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami didalam Shahih
    al Targhib wa Tarhib hal. 63
    yang mana katanya ; “Saya ingin agar
    engkau mengetahui satu dari beberapa hal bahwa saya memberanikan diri
    untuk....yang dikomentari oleh ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh
    Habib al-Rahman al-Azami “.... dan dia (Albani) mengatakan pada halaman
    yang sama “Dan apa yang membuat saya rindu untuknya, orang yang
    menyelidiki sesuatu dan mengumumkannya yaitu yang terhormat Syeikh Habib
    al-Rahman al-Azami “. Al-Albani memuji Syeikh al-Azami dalam buku
    yang tersebut diatas. Tapi kemudian membuat penyangkalan dalam ‘Adaab
    uz Zufaaf
    (Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), edisi baru hal.8 yang
    dia berkata; Al-Ansari telah membiasakan akhir dari tulisannya,
    salah satu musuh dari Sunnah, Hadits dan Tauhid, yang cukup terkenal ,
    ialah Syaikh Habib al-Rahman al-Azami......karena ketakutan dan
    kekurangan ilmunya....””



    avatar
    agung santoso

    Jumlah posting : 43
    Join date : 12.06.11

    Re: KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS

    Post by agung santoso on Sun 06 Nov 2011, 09:10

    NB - (The above quotation from Adaab uz Zufaaf is not found in the English translation by his supporters, which shows that they deliberately avoided translating certain parts of the whole work). So have a glance at this!

    NB: (Kutipan diatas dari ‘Adaab uz Zufaaf , tidak terdapat didalam terjemahan bahasa Inggris oleh pendukung-pendukungnya yang mana menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja tidak mau menterjemahkan bagian-bagian tertentu). Ini perlu diperhatikan !

    SELECTED
    TRANSLATIONS FROM VOLUME 2

    Terjemahan-terjemahan pilihan dari jilid (volume) 2

    No 28 : (* Pg. 143 no. 1 )
    Hadith of Abi Barza (Allah be pleased with him): "By Allah, you will not find a man more just than me" (Sunan al-Nisai, 7/120 no. 4103). Al-Albani said that this Hadith was SHOHIH in "Shohih al-Jami wa
    Ziyadatuh, 6/105 no. 6978", and then he astonishingly contradicts himself by saying it is DAEEF in "Daeef Sunan al-Nisai, pg. 164 no. 287." So beware of this mess!


    No.28 (Hal.143 nr.1)
    Hadits dari Abi Barza ra: “ Demi Allah, Engkau tidak akan menemukan seorang lebih benar dari saya “(Sunan Al-Nisai 7/120 nr. 4103) Al-Albani berkata bahwa hadits ini Shohih dalam Shohih Al-Jami wa Ziyadatuh 6/105 nr.6978 dan kemudian lebih mengherankan dia bertentang- an dengan perkataannya dalam Daeef Sunan Al-Nisai hal. 164 nr. 287 yang mengatakan itu Lemah. HATI-HATILAH DARI PENGACAUN INI !


    No 29 : (* Pg. 144 no. 2 )
    Hadith of Harmala ibn Amru al-Aslami from his Uncle: "Throw pebbles
    at the Jimar by putting the extremity of the thumb on the fore-finger." (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 no. 2874) Al-Albani acknowledged its weakness in "Shohih Ibn Khuzaima" by saying
    that the sanad was DAEEF, but then contradicts himself by saying it is SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923!"


    No 29 (Hal. 144 nr. 2)
    Hadits dari Harmala ibn Amru al-Aslami dari pamannya: “Letakkanlah
    batu kerikil pada ujung ibu jari diatas jari depan (telunjuk) pada lemparan jumrah
    “ (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 nr.2874). Al-Albani memberitahu kelemahan ini (hadits) dalam Shohih Ibn Khuzaima sambil mengatakan sanad hadits ini Lemah, tapi kemudian dia bertentangan
    sendiri yang mengatakan Shohih dalam "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !"


    No 30 : (* Pg. 144 no. 3 )
    Hadith of Sayyidina Jabir ibn Abdullah (Allah be pleased with him): "The Prophet (Peace be upon him) was asked about the sexually defiled [junubi]. . . can he eat, or sleep. . . He said :'Yes, when this
    person makes wudhu.'" (Ibn Khuzaima no. 217 and Ibn Majah no. 592). Al-Albani has admitted its weakness in his comments on "Ibn Khuzaima, 1/108 no. 217", but then contradicts himself by correcting the above Hadith in "Shohih Ibn Majah, 1/96 no. 482 "!!


    No 30
    (Hal. 144 nr.3) Hadits dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : “Rasulallah saw. ditanyai tentang Junub (orang yang belum suci setelah bersetubuh) ...apa boleh dia makan atau tidur...Beliau saw. bersabda : Boleh, bila orang ini wudu dahulu “ (Ibn Khuzaima nr. 217 dan Ibn Majah nr.592).
    Al-Albani telah mengikrarkan kelemahannya didalam komentarnya di Ibn Khuzaima 1/108 nr. 217, Tetapi kemudian kontradiksi sendiri dengan membenarkan hadits tersebut dalam Shohih Ibn Majah 1/96 nr. 482).


    No 31 : (* Pg. 145 no. 4 )
    Hadith of Aisha (Allah be pleased with her): "A vessel as a vessel and food as food" (Nisai, 7/71 no. 3957). Al-Albani said that it was SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462", but
    then contradicts himself in "Daeef Sunan al-Nisai, no. 263 pg. 157", by saying it is DAEEF!!!


    No. 31
    (Hal.145 nr.4) Hadits dari Aisyah ra ; “ Perahu sebagai perahu (berlayar) dan makanan sebagai makanan “ (Nasai 7/71 nr. 3957). Al-Albani mengatakan hadits ini Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/13 nr.1462, tetapi kemudian menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef Sunan al-Nisai nr. 263 hal.157. !!


    No 32 : (* Pg. 145 no. 5 )
    Hadith of Anas (Allah be pleased with him): "Let each one of you ask Allah for all his needs, even for his sandal thong if it gets cut." Al-Albani said that the above Hadith was HASAN in his checking of
    "Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252", but then contradicts himself in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 and 4948"!!!


    No 32
    (Hal.145 nr. 5) Hadits dari Anas ra : “Mintalah setiap kamu pada Allah semua yang engkau butuhkan walaupun mengenai tali sandalnya bila telah putus” Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan dalam penyelidik- annya di Mishkat 2/696 nr. 2251 dan 2252, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeef al-jami wa Ziyadatuh 5/69 nr. 4947 dan 4948 !!


    No 33 : (* Pg. 146 no. 6 )
    Hadith of Abu Dharr (Allah be pleased with him): "If you want to fast, then fast in the white shining nights of the 13th, 14th and 15th." Al-Albani declared it to be DAEEF in "Daeef al-Nisai,
    pg. 84" and in his comments on "Ibn Khuzaima, 3/302 no. 2127", but then contradicts himself by calling it SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448" and also corrected it in "Shohih al-Nisai, 3/902 no. 4021"!! So what a big contradiction!


    NB- (Al-Albani mentioned this Hadith in 'Shohih al-Nisai' and in 'Daeef al-Nisai', which proves that he is unaware of what he has and is classifying, how inept!).

    No. 33 (Hal.146 nr.6)
    Hadits dari Abu Dzar ra : “Bila engkau ingin berpuasa, maka puasalah pada bulan purnama tanggal 13, 14 dan 15 “ . Al-Albani menyatakan hadits ini Lemah dalam Daeef al-Nisai hal. 84 dan dalam komentarnya di Ibn Khuzaima 3/302 nr. 2127. Tetapi kemudian kontradiksi sendiri yang menyebutnya Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/10 nr. 1448 dan pula membenarkan itu dalam Shohih al-Nisai 3/902 nr. 4021 !! Ini adalah kontradiksi yang besar !


    NB: (Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Shohih al-Nisai dan dalam Daeef al-Nisai, ini semua menunjukkan bahwa dia tidak hati-hati/ceroboh atas apa yang telah dia perbuat, semuanya tidak layak)

    No 34 : (* Pg. 147 no. 7)
    Hadith of Sayyida Maymoonah (Allah be pleased with her): "There is nobody who has taken a loan and it is in the knowledge of Allah. . .." (Nisai, 7/315 and others). Al-Albani said in "Daeef al-Nisai,
    pg 190": "Shohih, except for the part al-Dunya." Then he contradicts himself in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/156", by saying that the whole Hadith is SHOHIH, including the al-Dunya part. So what an amazing contradiction!


    No.34
    (Hal. 147 nr.7) Hadits dari Siti Maymunah ra ; “ Tidak seorangpun yang menerima pinjaman dan itu (selalu)dalam pengetahuan Allah” (Nisai, 7/315 dan lain-lain). Al-Albani berkata dalam Daeef al-Nisai hal.190 ; ‘Shohih, kecuali bagian al-Dunya’. Kemudian dia menayangkal sendiri dalam Shohih al Jami wa Ziyadatuh 5/156, dengan mengatakan bahwa semua Hadits ini Shohih termasuk bagian al-Dunya. Ini kontradiksi yang sangat menakjubkan !


    No 35 : (* Pg. 147 no. Cool
    Hadith of Burayda (Allah be pleased with him): "Why do I see you wearing the jewellery of the people of hell" (Meaning the Iron ring), [Nisai, 8/172 and others. . .]. Al-Albani has said that it was SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540", but then contradicts himself by saying it is DAEEF in "Daeef al-Nisai, pg. 230"!!!


    No.35 (Hal. 147 nr. Cool Hadits dari Buraidah ra: “Mengapa saya melihat engkau memakai perhiasan dari penghuni neraka (Maksudnya cincin besi)”. (Nisai 8/172 dan lain-lainnya....). Al-albani telah mengatakan hadits in Shohih dalam Shahih al-jami wa Ziyadatuh 5/153 nr. 5540. Tetapi kemudian dia menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef al-Nisai hal.230) !

    No 36 : (* Pg. 148 no. 9 )
    Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): "Whoever buys a carpet to sit on, he has 3 days to keep it or return it with a cup of dates that are not brownish in colour" (Nisai 7/254 and others). Al-Albani has weakened it with reference to the '3 days' part in "Daeef Sunan al-Nisai, pg. 186", by saying: "Correct, except for 3 days." But the 'genius' contradicts himself by correcting the Hadith
    and approving the '3 days' part in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804". So wake up (al-Albani)!!


    No.36
    (Hal.148 nr. 9) Hadits dari Abu Huraira ra ; “ Siapapun membeli permadani untuk diduduki, dia mempunyai waktu tiga hari untuk menyimpan- nya atau mengembalikannya dalam beberapa waktu selama warnanya tidak menjadi coklat (karena kotor) ”. (Nisai 7/254 dan lain-lainya).
    Al-Albani telah melemahkan hadits ini pada bagian “tiga hari” dengan menyebut referensi- nya dalam Daeef Sunan al-nisai hal. 186, sambil katanya “Benar/Shohih kecuali kata-kata tiga hari”.Tetapi
    ‘orang cerdik ini’ menyangkal sendiri dengan membenarkan hadits itu dan termasuk bagian kata-kata “tiga hari” dalam Shohih al-jami wa Ziyadatuh 5/220 nr. 5804“. Bangunlah hai al-Albani!


    No 37 : (* Pg. 148 no. 10)
    Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): "Whoever catches a single rak'ah of the Friday prayer has caught (the whole prayer)." (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 and others). Al-Albani has weakened it in "Daeef Sunan al-Nisai, no. 78 pg. 49", where he said: "Abnormal (shadh), where Friday is mentioned." He then contradicts himself by saying SHOHIH, including the Friday part in "Irwa, 3/84 no. 622 ." May Allah heal you!


    No.37 (Hal. 148 nr.10)
    Hadits Abu Hurairah ra : “Siapapun yang mendapati satu raka’at dari Sholat Jum’at itu telah memadainya (untuk semua sholat)”. (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 dan lain-lainnya). Al-Albani
    telah melemahkan ini dalam Daeef Sunan al-Nisai, nr. 78 hal. 49, dimana dia telah berkata; ‘Luar biasa (shadh), bilamana disitu disebutkan hari jumat’. Kemudian dia kontradiksi sendiri dengan mengatakan Shohih termasuk bagian hari Jum’at dalam Irwa, 3/84 nr. 622 !! Semoga Allah menyembuhkanmu !


    AL-Albani and his Defamation and Authentication of Narrators at will !
    Al-Albani dan Fitnahannya Dan Perawi-perawi yang dipercaya kesenangannya
    !

    No 38 : (* Pg 157 no 1 )
    KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani said in his "Shohihah, 3/481" : "Kanaan is considered Hasan, for he is attested by Ibn Ma'een." Al-Albani then contradicts himself by saying, "There is weakness in Kanaan" (see "Daeefah, 4/282")!!


    No 38
    (Hal. 157 nr.1) Kanan Ibn Abdullah An-Nahmy : Al-Albani berkata dalam Shohihah, 3/481 ; “Kanaan telah dianggap sebagai Hasan, untuk itu telah dinyatakan oleh Ibn Ma’een. Kemudian Al-Albani menyangkal sendiri dengan katanya “ Ada kelemahan pada Kanaan” (lihat Daeefah, 4/282) !!


    No 39 : (* Pg. 158 no. 2 )
    MAJA'A IBN AL-ZUBAIR :- Al-Albani has weakened Maja'a in "Irwa al-Ghalil, 3/242", by saying, "This is a weak sanad because Ahmad has said: 'There is nothing wrong with Maja'a', and Daraqutni has
    weakened him. . ." Al-Albani then made a contradiction in his "Shohihah, 1/613" by saying: "His men (the narrators) are trusted except for Maja'a who is a good narrator of Hadith." An amazing contradiction!


    No 39
    (Hal.158. nr.2) Maja’a Ibn Al-Zubair : Al-Albani telah melemahkan Maja’a dalam Irwa al-Ghalil, 3/242, dengan katanya. “ Ini adalah sanad yang lemah sebab Ahmad telah berkata ‘ Tidak ada kesalahan dengan Maja’a, dan Daraqutni telah melemahkan dia...’“. Al-Albani telah membuat kontradiksi
    dalam bukunya Shohihah 1/613 dengan mengatakan “ Perawi-perawinya bisa dipecaya kecuali Maja’a, itu seorang perawi hadits yang baik“. Suatu pertentangan yang menakjubkan !!!


    No 40 : (* Pg. 158 no. 3 )
    UTBA IBN HAMID AL-DHABI :- Al-Albani has weakened him in "Irwa al-Ghalil, 5/237" by saying: "And this is a weak (Daeef) sanad which has three defects. . . . the second defect is the weakness of al-Dhabi, the Hafiz said: 'A truthful narrator with hallucinations'". Al-Albani then makes an obvious contradiction in "Shohihah, 2/432", where he said about a sanad which mentions Utba: "And this is a good (Hasan) sanad, Utba ibn Hamid al-Dhabi is trustworthy but has hallucinations, and the rest of the narrators in the sanad are trusted." !!


    No 40 (Hal.158 nr.3) Utba Ibn Hamid Al-Dhabi; Al-Albani telah melemahkan dia dalam
    Irwa al-Ghalil 5/237 sambil katanya ; “ Dan ini adalah sanad lemah yang mempunyai tiga kekeliruan....kekeliruan kedua ialah kelemahan dari al-Dhabi, Hafiz berkata ; ‘ Seorang perawi jujur dengan khayalan’ . Kemudian Al-Albani membuat kontradiksi yang nyata dalam Shohihah 2/432,
    dimana dia ber- kata tentang sanad yang menyebut Utba; ”Dan ini sanad yang baik (Hasan), Utba ibn Hamid al-Dhabi dapat dipercaya.....tapi mempunyai khayalan, dan lain daripada sanad perawi itu
    semuanya dapat dipercaya”.


    No 41: (* Pg. 159 no. 4 )HISHAM IBN SA'AD :- Al-Albani said in his "Shohihah, 1/325":
    "Hisham ibn Sa'ad is a good narrator of Hadith." He then contradicts himself in "Irwa al-Ghalil, 1/283" by saying: "But this Hisham has a weakness in memorizing" So what an
    amazement !!


    No 41 (Hal. 159 nr. 4) Hisham Ibn Sa’ad ; Al-Albani berkata dalam Shohihah 1/325; “
    Hisham ibn sa’ad ialah perawi hadits yang baik”. Kemudian dia bertentangan sendiri dalam Irwa al-Ghalil 1/283 sambil katanya ; “Tapi Hisham ini lemah dalam hafalan”. Sesuatu yang mengherankan !!


    No 42 : (* Pg. 160 no. 5 )
    UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani has weakened him in
    "Shohihah, 1/371", where he said: "He in himself is trusted
    but he used to be a very bad forger, which makes him undependable. . .
    ." Al-Albani then contradicts himself again in "Shohihah,
    2/259" by accepting him and describing him as being trustworthy from
    a sanad which mentions Umar ibn Ali. Al-Albani says: "Classified by
    Hakim, who said: 'A Shohih Isnad (chain of transmission)', and al-Dhahabi
    went along with it, and it is as they have said." So what an
    amazement !!!




    No
    42 (Hal.160 nr. 5) Umar Ibn Ali Al-Muqaddami ; Al-albani telah
    melemahkan dia dalam Shohihah 1/371, dimana dia berkata ; “ Dia merasa
    dirinya bisa dipercaya, tapi dia sebagai Pemalsu yang sangat jelek,
    dengan menjadikan dirinya tidak dipercayai...” Al-Albani membuat
    kontradiksi baru lagi dalam Shohihah 2/259 mengakui dia (Umar ibn Ali) dan
    mengatakan bila ada sanad yang menyebut Umar Ibn Ali maka bisa
    dipercayainya
    . Al-Albani berkata “ Diklasifikasikan oleh Hakim yang
    mana berkata : “Shohih isnadnya” (rantaian perawinya) dan Al-Dhahabi
    mengakuinya juga dan mereka (berdua) mengatakan demikian adalah benar “.
    Itu sangat mengherankan !




    No 43: (* Pg. 160 no. 6
    )ALI IBN SA'EED AL-RAZI :- Al-Albani has weakened him in "Irwa,
    7/13", by saying: "They have said nothing good about
    al-Razi." He then contradicts himself in another 'fantastic' book of
    his, "Shohihah, 4/25", by saying: "This is a good (Hasan)
    sanad and the narrators are all trustworthy." So beware !!!




    No 43 (Hal. 160.
    nr. 6) Ali Ibn Sa’eed Al-Razi ; Al-Albani telah melemahkan dia
    dalam Irwa 7/13, dengan katanya : “Mereka telah mengatakan tidak ada
    yang benar
    tentang al-Razi” Dia kemudian menyangkal sendiri
    dalam ‘buku lainnya yang ‘indah/hebat’ Shohihah, 4/25, sambil
    mengatakan “Ini adalah baik (Hasan) sanadnya dan perawi-perawinya semua
    bisa dipercaya
    ”. Berhati-hatilah !!




    No 44: (* Pg. 165 no. 13 )
    RISHDIN IBN SA'AD :- Al-Albani said in his "Shohihah, 3/79" :
    "In it (the sanad) is Rishdin ibn Sa'ad, and he has been declared
    trustworthy." But then he contradicts himself by declaring him to be
    DAEEF in "Daeefah, 4/53"; where he said: "And Rishdin ibn
    Sa'ad is also daeef." So beware!!




    No 44: (Hal. 165 nr. 13)
    Rishdin Ibn Sa’ad : Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/79 : “ Ada dalam
    sanad Rishdin ibn Sa’ad, dan dia telah menyatakan bisa dipercaya”.
    Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam penyataannya yang
    mengatakan Lemah tentang dia (Rishdin) dalam Daeefah 4/53, dimana
    dia berkata : “dan Rishdin ibn Sa’ad ini juga lemah “.
    BERHATI-HATILAH !!




    No 45: (* Pg. 161 no. 8 )
    ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA'AD :- What an amazing fellow this Shaykh!!
    Al-Albani!! Proves to be. He said in "Irwa al-Ghalil, 2/228":
    "His status is unknown, and only Ibn Hibban trusted him." But
    then he contradicts himself by his usual habit! Because he only transfers
    from books and nothing else, and he copies without knowledge; this is
    proven in "Shohihah, 1/450", where he said about Ashaath:
    "Trustworthy". So what an amazement !!!




    No 45 (Hal. 161 nr. Cool
    Ashaath Ibn Ishaq Ibn Sa’ad : Betapa mengherankan lelaki
    (Al-Albani) ini !! Terbukti, dia berkata dalam Irwa al-Ghalil 2/228,
    “Keadaannya/statusnya tidak dikenal, dan hanya Ibn Hibban
    mempercayai dia”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri, seperti
    kebiasaannya! Karena dia hanya mengalihkan/menyalin dari buku-buku dan
    tidak ada lain- nya, dan dia mengutip/menyalin tanpa adanya ilmu
    pengetahuan. Ini dibukti- kan dalam Shohihah 1/450, dimana dia berkata
    tentang Ashaath : “Dapat dipercaya”. Keajaiban yang luar biasa!!




    Nr.46: (* Pg. 162 no. 9 )
    IBRAHIM IBN HAANI :- The honourable!! The genius!! The copier!! Has made
    Ibrahim ibn Haani trustworthy in one place and has then made him unknown
    in another. Al-Albani said in 'Shohihah, 3/426': "Ibrahim ibn Haani
    is trustworthy", but then he contradicts himself in "Daeefah,
    2/225", by saying that he is unknown and his Ahadith are refused!!




    No
    46: (Hal.162 nr.9) Ibrahim Ibn Haani : “Paling terhormat !
    Paling Pandai ! Tukang Menyalin ! Dia (Albani) telah membuat Ibn Haani ‘dapat
    dipercaya
    ‘ disatu tempat dan membuat dia ‘tidak dikenal’ ditempat
    lainnya.. Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/426; “ Ibrahim ibn Haani
    ialah dapat dipercaya”, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri
    dalam Daeeah, 2/225 dengan katanya “bahwa dia itu tidak dikenal
    dan haditsnya itu tertolak ! “.




    No 47: (* Pg. 163 no. 10 )
    Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi : Al-Albani has corrected a sanad by saying
    it is good in "Irwa, 8/7", with the words: "And its sanad
    is good, the narrators are trustworthy, except for Ibn Abdullah al-Kufi
    who is truthful." He then contradicts himself by weakening the sanad
    of a Hadith where al-Ijlaa is found and has made him the reason for
    declaring it DAEEF (see 'Daeefah, 4/71'); where he said: "Ijlaa ibn
    Abdullah has a weakness." Al-Albani then quoted Ibn al-Jawzi's
    (Rahimahullah) words by saying: "Al-Ijlaa did not know what he was
    saying ."!!!




    No 47: (Hal. 163
    nr. 10) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi ; Al-Albani memperbaiki sanad
    sambil mengatakan itu baik dalam Irwa 8/7, dengan kata-kata : “ Dan sanad
    tersebut adalah baik , perawi-perawi semua dapat dipercaya,
    kecualiIbn Abdullah al-Kufi dia adalah jujur “. Dia kemudian
    kontradiksi sendiri dengan melemahkan sanad dari hadits
    yang diketemukan al-Ijlaa dan dia membuat alasan baginya untuk
    menyatakannya lemah (lihat Daeefah 4/71) , dimana dia berkata: “ Ijlaa
    ibn Abdullah mempunyai kelemahan “ Al-Albani menukil kata-kata Ibn
    al-Jawzi’s (Rahimahullah) yang berkata ; “ Al-Ijlaa tidak mengetahui apa
    yang dia katakan “ !!!




    No 48: (* Pg. 67-69 )
    ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani has criticised Al-Hafiz
    al-Haythami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi and the Muhaddith Abu'l-Fadl
    al-Ghimari (Allah's mercy be upon them) in his book "Silsilah
    al-Daeefah, 4/302", when checking a Hadith containing the narrator Abdullah
    ibn Salih. He says on page 300: "How could Ibn Salih be all right
    and his Hadith be good, even though he has got many mistakes and is of
    little awareness, which also made some fraudulent Hadiths enter his
    books, and he narrates them without knowing about them!" He has not
    mentioned that Abdullah ibn Salih is one of Imam al-Bukhari's men (i.e.
    used by al-Bukhari), because it does not suit his mode, and he does not
    state that Ibn Ma'een and some of the leading critics of Hadith have
    trusted him. Al-Albani has contradicted himself in other places in his
    books by making Hadiths containing Abdullah ibn Salih to be good, and
    here they are :- Al-Albani said in "Silsilah al-Shohihah,
    3/229" : "And so the sanad is good, because Rashid ibn Sa'ad is
    trustworthy by agreement, and who is less than him in the men of Shohih,
    and there is also Abdullah ibn Salih who has said things that are
    unharmful with Allah's help!!"."





    Al-Albani also said in
    "Shohihah, 2/406" about a sanad which contained Ibn Salih:
    "a good sanad in continuity." And again in "Shohihah,
    4/647": "He's a proof with continuity”





    NB- (Shaykh Saqqaf then
    continued with some important advice, this has been left untranslated for
    brevity but one may refer to the Arabic for further elaboration). By the
    grace of Allah, this is enough from the books of Shaykh Saqqaf to
    convince any seeker of the truth, let alone the common folk who have
    little knowledge of the science of Hadith. If anyone is interested for
    hundreds of other similar quotes from Shaykh Saqqaf, then I suggest you
    write to the following address to obtain his book Tanaqadat al-Albani
    al-Wadihat (The Clear Contradictions of al-Albani).




    No 48: (Hal.
    67-69) Abdullah Ibn Salih: Kaatib Al-Layth: Al-albani telah mengeritik
    Al-Hafiz al-Haitami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi dan ahli hadits
    Abu’l-Fadzl al-Ghimari (rh) dalam bukunya Silsilah al-Daeefah 4/302,
    waktu mengontrol hadits yang didalamnya ada perawi Abdullah ibn Salih.
    Dia (Albani) berkata pada halaman 300 ; “Bagaimana dapat Ibn Salih
    menjadi benar dan haditsnya menjadi baik, dia sendiri sangat banyak
    membuat kesalahan dan yang mana juga memasukkan beberapa hadits palsu
    didalam bukunya, dan dia meyebutkan sanad-sanadnya tapi dia sendiri tidak
    mengenal mereka.”





    Dia (Albani) tidak
    menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih ialah salah satu orang dari
    orang-orangnya Imam Bukhori (yaitu dipakai oleh Bukhori), karena (Albani)
    tidak cocok dengan caranya (Albani) dan dia (Albani) tidak menyebutkan
    bahwa Ibn Ma’een dan beberapa kritikus dari hadits telah mempercayai dia
    (Abdullah Ibn Salih). Al-Albani telah berlawanan dengan perkataannya
    sendiri, dalam tempat lain dibuku-bukunya telah mengatakan bahwa semua
    hadits yang diketengahkan Abdullah ibn Salih adalah baik, sebagai berikut
    :


    Al-Albani berkata dalam
    de Silsilah Al-Shohihah, 3/229 : “ Dan sanad itu baik, karena Rashid ibn
    Saad telah disepakati dapat dipercaya dan lebih rendah dari dia dalam
    lingkungan orang-orang yang Shohih dan juga Abdullah ibn Salih telah
    mengatakan sesuatu yang tidak bahaya dengan bantuan Allah “Al-Albani juga
    berkata dalam Shohihah 2/406 mengenai sanad yang didalamnya ada Ibn
    Salih “sanad berkesinambungan yang baik” Dan lagi dalam
    Shohihah 4/647; “Dia adalah bukti dalam berkesinambungan”




    NB: (kemudian Syeikh Seggaf
    meneruskan dengan beberapa wejangan yang penting, demi keringkasan
    sengaja tidak diterjemahkan , tetapi bila orang ingin merujuknya bisa
    lihat bahasa Arabnya). Dengan karunia Allah, ini telah cukup dari
    buku-buku Syeikh Seggaf untuk meyakinkan siapa saja yang mencari kebenaran,
    biarkan orang-orang itu sendiri bersama-sama mengetahui sedikit
    tentang ilmu hadits. Bila ada orang tertarik untuk mendapatkan buku yang
    didalamnya ada ratusan kutipan yang serupa (tentang Al-Albani) yang
    berjudul Tanaqadat Al-Albani Al-Wadihat silahkan anda
    menulis kealamat: IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN JORDAN.




    Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan
    yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-Muhaddis
    Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhamad
    Ibn Ali Hasan As-Saqqof’ dimana dalam kitabnya tersebut beliau
    (Rahima- hullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari
    Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh
    diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat
    digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi
    sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar ‘Al-Muhaddits’
    (Ahli Hadits) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu
    hadits dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para
    Masyaik’h yang memang ahli dalam bidang ini.




    Sumber: Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi / Wahabi
    (oleh: A. Shihabuddin)

      Waktu sekarang Tue 21 Nov 2017, 17:34